Menu ✖

Mode Gelap
Gastra Blora Salurkan Santunan untuk 3.000 Anak Yatim, Baznas Kumpulkan Rp1,4 Miliar per Bulan Viral Truk Tangki Agung Tirta Masuk Makam di Cepu, Warganet Heboh Bahas Makam yang Ditabrak 132 UMKM Blora Terima Bantuan Gerobak BRI Peduli, Eva Monalisa Dorong Usaha Kecil Naik Kelas Polsek Kedungtuban dan Bhayangkari Salurkan Bansos untuk Korban Puting Beliung di Nglandeyan PT Djarum Bedah 16 Rumah Warga Rembang, Bupati Harno Berharap Tahun Depan Bertambah Jadi 50 Unit Kasatreskrim Polres Blora AKP Andika Arya Pratama Siapkan Langkah Adaptif, Fokus Tingkatkan Kepercayaan Masyarakat ‎

Berita

Kelangkaan LPG 3 Kg di Dukuh Gendono, Warga Berebut Gas hingga Harga Tembus Rp29 Ribu

badge-check


					Kelangkaan LPG 3 Kg di Dukuh Gendono, Warga Berebut Gas hingga Harga Tembus Rp29 Ribu Perbesar

Klikjateng Blora – Warga Dukuh Gendono, Desa Gandu, Kecamatan Bogorejo, Kabupaten Blora, mengeluhkan kelangkaan gas LPG subsidi 3 kilogram yang telah berlangsung hampir satu bulan terakhir. Kondisi tersebut membuat harga gas melonjak hingga mencapai Rp28.000–Rp29.000 per tabung di tingkat warung atau toko.

‎

‎Kelangkaan ini dirasakan langsung oleh masyarakat, terutama pelaku usaha kecil yang menggantungkan aktivitasnya pada penggunaan LPG. Salah seorang warga, Bu Indah, mengaku hanya mendapatkan jatah dua tabung LPG setiap pekan dari pangkalan langganannya.

‎

‎Padahal, dua tabung tersebut digunakan untuk kebutuhan rumah tangga sekaligus berjualan gorengan. Dalam kondisi normal, persediaan gas itu hanya mampu bertahan sekitar dua hari sehingga ia terpaksa mencari tambahan ke warung atau toko lain.

‎

‎Namun, mencari LPG di luar pangkalan bukan perkara mudah. Warga menyebut pembelian di warung berlangsung dengan sistem “rebutan”. Begitu ada informasi stok gas datang, masyarakat langsung berdatangan agar tidak kehabisan.

‎

‎”Kalau telat sedikit saja, gas sudah habis dibeli orang lain,” ujarnya. Sabtu (4/7/2026).

‎

‎Selain sulit diperoleh, harga LPG juga mengalami kenaikan. Jika di pangkalan harga berkisar Rp22.000 hingga Rp25.000 per tabung, di warung atau toko harga melonjak menjadi Rp28.000 hingga Rp29.000 akibat terbatasnya pasokan.

‎

‎Sementara itu, sebagian warga lanjut usia memilih kembali menggunakan kayu bakar sebagai alternatif. Seperti yang dilakukan Mbah Tamsi, yang mengaku lebih nyaman memasak dengan kayu bakar karena merasa lebih aman dibanding kompor gas. Menurutnya, nasi yang dimasak menggunakan kayu bakar juga memiliki cita rasa yang lebih enak.

‎

‎Warga berharap pemerintah bersama pihak terkait segera menormalkan distribusi LPG subsidi 3 kilogram agar pasokan kembali lancar dan harga kembali stabil. Mereka juga meminta pengawasan distribusi diperketat sehingga gas bersubsidi benar-benar tersedia bagi masyarakat yang berhak dan tidak lagi menimbulkan antrean maupun aksi berebut di sejumlah warung.

‎

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending di Berita