Menu

Mode Gelap
Polsek Todanan Ungkap Komplotan Curanmor Lintas Daerah, Dua Pelaku Diamankan ‎ Meriahkan Hari Bhayangkara ke-80, Polsek Jepon Gelar Mural Competition Libatkan Pelajar SMP dan SMA Sekda Grobogan Tekankan Evaluasi dan Kolaborasi untuk Percepat Penurunan Stunting ‎ Kapolda Jateng Cup 2026 Hadirkan Festival E-Sport, Cosplay, Kuliner hingga Layanan Kesehatan Gratis Pemkab Rembang Percepat Pengalihan Jalur Angkutan Tambang di Kecamatan Sale ‎ Sambut Hari Bhayangkara ke-80, Polres Blora Bedah Tiga Rumah Warga Kurang Mampu

Berita

Jalan Alur Hutan Rusak Parah, KPH Mantingan Keluhkan Hambatan Operasional dan Ajak Masyarakat Merawat Bersama

badge-check


					Jalan Alur Hutan Rusak Parah, KPH Mantingan Keluhkan Hambatan Operasional dan Ajak Masyarakat Merawat Bersama Perbesar

Klikjateng, Rembang – Kondisi jalan alur di kawasan hutan wilayah KPH Mantingan dikeluhkan petugas karena semakin rusak dan berlumpur, sehingga menghambat aktivitas operasional, terutama dalam penanganan situasi darurat.

‎Wakil Kepala KPH Mantingan, Arief Yudiarko, mengungkapkan bahwa jalan tersebut sejatinya merupakan jalur penting yang digunakan untuk berbagai kegiatan, mulai dari pengamanan hingga produksi.

‎“Jalan itu sebenarnya alur operasional kami. Digunakan untuk kegiatan keamanan, produksi, dan lainnya. Memang sudah pernah dibuat makadam, tapi belum ada perbaikan lagi karena kondisi perusahaan,” ujarnya. Jumat (17/4/2026).

‎Meski demikian, jalan tersebut juga dimanfaatkan masyarakat, khususnya petani hutan atau pesanggem, untuk mengangkut hasil panen seperti jagung dari lahan ke rumah menggunakan kendaraan truk maupun pickup.

‎Namun, tingginya intensitas penggunaan tanpa diimbangi perawatan membuat kondisi jalan semakin memprihatinkan. Lumpur yang terbentuk bahkan mencapai kedalaman 30 hingga 60 sentimeter.

‎“Kendala terbesar saat kondisi darurat adalah lambatnya penanganan karena jalan yang berlumpur dan rusak akibat roda kendaraan. Kedalamannya bisa sampai 30 sampai 60 cm,” jelasnya.

‎Ia menambahkan, kendaraan dinas yang digunakan petugas memang berjenis 4×4, namun tetap mengalami kesulitan saat melintasi jalur tersebut. Bahkan, petugas lapangan kerap terpaksa menggunakan sepeda motor dan mencari jalur alternatif di luar alur utama.

‎“Kalau lewat jalur alur harusnya lebih cepat, tapi karena rusak jadi terhambat. Petugas akhirnya memilih jalur lain meski tidak ideal,” tambahnya.

‎Pihaknya berharap ada kesadaran bersama dari semua pihak, baik petugas maupun masyarakat pengguna jalan, untuk menjaga dan merawat jalur tersebut agar tetap dapat digunakan secara optimal.

‎“Kami mengajak masyarakat, khususnya pesanggem, untuk bersama-sama merawat jalan ini. Karena ini kepentingan bersama, agar semua aktivitas bisa berjalan lancar,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending di Berita