Menu

Mode Gelap
Ganti Rugi Tanah Bendungan Karangnongko Blora Rp300 Ribu/Meter, Warga Terima hingga Rp1,2 Miliar Kemarau Panjang, Eva Monalisa Salurkan 200 Tangki Air Bersih ke 14 Kecamatan di Blora Bupati Kudus Sam’ani Beri Pesan Tegas ke 659 PPPK: Layani Masyarakat, Jangan Langgar Aturan Viral Rumah Mbah Samijah di Sambong Blora, Bupati Arief Turun Langsung dan Beri Bantuan 300 ASN Blora Ikuti Profiling di BKN Yogyakarta, Kerjakan 500 Soal dalam 150 Menit‎ Razia Gabungan di Rembang, 1.060 Batang Rokok Ilegal Diamankan dari Lasem-Pamotan

Berita

Tanah Bergerak di Dukuh Guyangan Gegerkan Warga, Puluhan Bangunan Rusak Parah

badge-check


					Tanah Bergerak di Dukuh Guyangan Gegerkan Warga, Puluhan Bangunan Rusak Parah Perbesar

Klikjateng, Pati – Pergerakan tanah yang terjadi di Dukuh Guyangan, Desa Purworejo, Kecamatan Pati Kota, menggegerkan warga setempat. Fenomena ini menyebabkan kerusakan pada sejumlah bangunan, dengan tiga rumah di antaranya hampir roboh.

“Ya, benar kejadian tanah bergerak ini terjadi sejak Jumat dan hingga hari ini (Minggu) kondisinya semakin parah,” ungkap Camat Pati Kota, Didik Rudirtono.

Lokasi pergerakan tanah berada di bantaran Sungai Silugonggo, tepatnya dari lampu merah menuju arah Jembatan Kali Sampang. Akibat kejadian ini, sebanyak 21 bangunan rumah dan toko mengalami kerusakan, dengan tiga rumah mengalami kerusakan parah hingga hampir roboh.

Pantauan di lokasi menunjukkan sejumlah bangunan mengalami keretakan pada dinding dan lantai. Beberapa lantai rumah bahkan mengalami retakan yang cukup lebar, hingga mencapai kurang lebih 10 sentimeter. Tanah di sekitar lokasi juga terlihat retak dengan lebar bervariasi.

Pemerintah Desa Purworejo telah mengambil langkah-langkah darurat untuk menangani situasi ini, termasuk mengevakuasi korban yang terdampak. Selain itu, rapat koordinasi penanggulangan bencana juga telah dilakukan bersama berbagai pihak, seperti BBWS Pemali Juana, tim pelaksana dan pengawas bendung karet, TNI, Polri, camat, dan keluarga korban terdampak bencana.

“Hasil rapat koordinasi menunjukkan bahwa penyebab pergerakan tanah ini adalah penurunan tanah akibat dampak kekeringan, yang mengakibatkan debit air menurun 1,5 meter dari titik normal ketika kondisi air laut stabil,” jelas Didik.

Untuk mengatasi masalah ini, langkah darurat yang diambil adalah meminta penggelontoran air secepatnya dari bendung Wilalung atau Kedungombo. Pemerintah juga mengimbau pemilik rumah dan kios untuk segera mengosongkan bangunan dan tidak tinggal di sana, guna mencegah terjadinya korban jiwa.

Pergerakan tanah ini terus diawasi secara ketat oleh pihak terkait, sementara warga diimbau tetap waspada dan mengikuti arahan dari pemerintah setempat.

(Ag/TM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending di Berita