Menu

Mode Gelap
Kementan Dorong Pengembangan Gula Tumbu di Rembang, Jadi Alternatif Hilirisasi Tebu ‎ Lebih dari Sekadar Dakwah, Bupati Tantang Muslimat NU Blora Kembangkan Pertanian Organik dan Ayam Kampung Peringati Hari Anak Nasional, Pemkab Blora Gelar FABLO 2026, Bupati Ajak Anak Peduli Lingkungan dan Lestarikan Tradisi ‎ Pemkab Blora dan Polres Salurkan Bantuan Air Bersih, Bupati: APBD Siapkan 1.400 Tangki untuk Atasi Kekeringan ‎ Truk Ditabrak KA Ambarawa di Perlintasan Tanpa Palang Pintu Jati, Sopir Alami Luka Berat 225 Siswa Mulai Tempuh Pendidikan di Sekolah Rakyat Terintegrasi Rembang, 30 Siswa Berasal dari Blora ‎

Berita

Pemkab Blora Gandeng UGM Kembangkan Ayam Kampung, Disiapkan Jadi Program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat ‎

badge-check


					Pemkab Blora Gandeng UGM Kembangkan Ayam Kampung, Disiapkan Jadi Program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat ‎ Perbesar

Klikjateng Blora – Pemerintah Kabupaten Blora bersama Universitas Gadjah Mada (UGM) mulai merancang pengembangan ayam kampung sebagai salah satu program pemberdayaan ekonomi masyarakat. Gagasan tersebut mengemuka dalam forum pengembangan ayam kampung yang digelar di Ruang Pertemuan Dinas Pendidikan Kabupaten Blora, Minggu (26/7/2026).

‎Kegiatan ini merupakan tindak lanjut pertemuan Bupati Blora, Dr. H. Arief Rohman, dengan sejumlah guru besar UGM yang membahas peluang menjadikan ayam kampung sebagai komoditas unggulan daerah berbasis masyarakat.

‎Forum tersebut menghadirkan sejumlah akademisi UGM, di antaranya Prof. Yuny Erwanto, Prof. Bambang Suhartanto, Prof. Catur Sugiyanto, Prof. Lilik Sutiarso, Prof. Alva Edy Tontowi, serta Dr. Heru Sasongko dari Fakultas Peternakan UGM. Hadir pula Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD), Dinas Pangan, Pertanian, Peternakan dan Perikanan (DP4), para camat se-Kabupaten Blora, petani milenial, kelompok peternak, dan pelaku usaha ayam kampung.

‎Dalam paparannya, Dr. Heru Sasongko menegaskan bahwa keberhasilan pengembangan ayam kampung tidak cukup hanya melalui pembagian bibit atau penambahan populasi ternak, melainkan harus dibangun secara menyeluruh dari hulu hingga hilir.

‎”Kalau ingin berhasil, yang dibangun bukan hanya kandangnya, tetapi ekosistem perayamannya,” ujarnya.

‎Menurut Heru, ayam kampung memiliki nilai strategis karena selain menjadi sumber pangan, juga merupakan bagian dari budaya masyarakat Indonesia sejak lama. Namun, ia mengingatkan adanya persoalan penurunan kualitas genetik akibat praktik seleksi negatif yang berlangsung selama bertahun-tahun.

‎Ia menjelaskan, selama ini peternak cenderung menjual ayam yang pertumbuhannya paling cepat dan berukuran besar karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Sebaliknya, ayam yang kualitasnya kurang baik justru dipertahankan sebagai indukan.

‎Akibatnya, kualitas genetik ayam kampung terus mengalami penurunan yang berdampak pada lambatnya pertumbuhan, ukuran yang tidak seragam, serta produktivitas yang belum optimal.

‎Untuk mengatasi hal tersebut, UGM mendorong penerapan seleksi positif dengan memilih ayam terbaik sebagai indukan agar kualitas genetik terus meningkat dari generasi ke generasi.

‎”Jangan sampai kita kehilangan sumber daya genetik yang sebenarnya sangat berharga,” kata Heru.

‎Dalam kesempatan itu, Heru juga memperkenalkan konsep Empat Pilar Keberhasilan Peternakan Ayam, yakni penggunaan bibit unggul, pemberian nutrisi yang optimal, penerapan manajemen pemeliharaan yang baik, serta penyediaan lingkungan kandang yang ideal.

‎”Keempat faktor itu harus berjalan bersama. Bibit unggul tidak akan memberikan hasil maksimal tanpa pakan yang baik, manajemen yang tepat, dan lingkungan yang mendukung,” jelasnya.

‎Selain memberikan pembekalan teknis, tim UGM juga melakukan penjajakan terhadap potensi pengembangan ayam kampung di Kabupaten Blora, mulai dari kebutuhan pasar, kapasitas produksi peternak, hingga peluang pengembangan usaha berbasis pedesaan.

‎Sementara itu, Bupati Blora, Dr. H. Arief Rohman, menyambut baik gagasan yang disampaikan UGM. Menurutnya, program pengembangan ayam kampung sejalan dengan upaya Pemerintah Kabupaten Blora dalam memperkuat ekonomi masyarakat melalui sektor pertanian dan peternakan.

‎Setelah sebelumnya mendorong pengembangan pertanian organik, kini Pemkab Blora ingin menjadikan ayam kampung sebagai salah satu program pemberdayaan yang mampu meningkatkan pendapatan keluarga.

‎”Tahun lalu kita fokus pada pertanian organik. Ke depan kita ingin mendorong pemberdayaan masyarakat melalui ayam kampung agar bisa menjadi sumber pendapatan tambahan bagi keluarga,” ujar Bupati.

‎Ia menambahkan, program tersebut tidak hanya menyasar keluarga kurang mampu, tetapi juga pelaku usaha ayam kampung yang telah berkembang agar usahanya semakin maju.

‎Menurut Arief, pola pemberdayaan serupa sebenarnya telah dijalankan melalui Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Blora dengan memberikan bantuan sekitar 20 ekor ayam kepada keluarga kurang mampu sebagai modal usaha.

‎Untuk menyukseskan program tersebut, Bupati meminta Dinas PMD, DP4, serta para camat ikut terlibat aktif dalam penyusunan skema pelaksanaannya. Dinas PMD diharapkan mengintegrasikan program dengan agenda pemberdayaan desa, sementara DP4 memberikan pendampingan teknis mulai dari pembibitan, budidaya, kesehatan ternak, hingga pengembangan usaha peternakan rakyat.

‎Melalui kolaborasi bersama UGM, Pemerintah Kabupaten Blora berharap pengembangan ayam kampung tidak hanya meningkatkan produksi ternak lokal, tetapi juga menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending di Berita