Menu

Mode Gelap
Kementan Dorong Pengembangan Gula Tumbu di Rembang, Jadi Alternatif Hilirisasi Tebu ‎ Lebih dari Sekadar Dakwah, Bupati Tantang Muslimat NU Blora Kembangkan Pertanian Organik dan Ayam Kampung Peringati Hari Anak Nasional, Pemkab Blora Gelar FABLO 2026, Bupati Ajak Anak Peduli Lingkungan dan Lestarikan Tradisi ‎ Pemkab Blora dan Polres Salurkan Bantuan Air Bersih, Bupati: APBD Siapkan 1.400 Tangki untuk Atasi Kekeringan ‎ Truk Ditabrak KA Ambarawa di Perlintasan Tanpa Palang Pintu Jati, Sopir Alami Luka Berat 225 Siswa Mulai Tempuh Pendidikan di Sekolah Rakyat Terintegrasi Rembang, 30 Siswa Berasal dari Blora ‎

Berita

Kementan Dorong Pengembangan Gula Tumbu di Rembang, Jadi Alternatif Hilirisasi Tebu ‎

badge-check


					Kementan Dorong Pengembangan Gula Tumbu di Rembang, Jadi Alternatif Hilirisasi Tebu ‎ Perbesar

Klikjateng Blora – Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong pengembangan industri gula tumbu sebagai alternatif hilirisasi tebu guna meningkatkan nilai tambah hasil panen petani sekaligus mendukung target swasembada gula nasional.

‎Dorongan tersebut disampaikan Direktur Tanaman Semusim dan Tahunan Ditjen Perkebunan Kementan, Abdul Roni Angkat, saat meninjau sentra pengolahan gula tumbu milik mitra petani Koperasi Perwira Cipta Mandiri (KPCM) di Desa Gegersimo, Kecamatan Pamotan, Kabupaten Rembang, Minggu (2/8/2026).

‎Abdul Roni mengatakan, pemerintah saat ini mendapat mandat untuk mewujudkan swasembada gula. Seiring meningkatnya produksi tebu nasional sejak 2025, diperlukan alternatif pengolahan selain gula kristal putih agar hasil panen petani dapat terserap secara optimal.

‎”Tebu sudah ditanam sejak 2025 dan akan terus berlanjut. Di sini petani menyampaikan ada alternatif selain diolah menjadi gula kristal putih, yakni gula merah tebu atau gula tumbu,” ujarnya.

‎Menurutnya, gula tumbu dapat menjadi solusi sementara di daerah yang kapasitas pabrik gulanya masih terbatas.

‎”Tidak semua hasil tebu dapat langsung diolah oleh pabrik gula karena kapasitasnya terbatas. Ternyata gula merah tebu ini juga memiliki pasar, termasuk untuk industri pembuatan kecap,” katanya.

‎Meski demikian, Abdul Roni menegaskan bahwa peningkatan standar higienitas harus menjadi perhatian apabila industri gula tumbu terus dikembangkan.

‎”Tugas pemerintah kabupaten, provinsi, dan pusat adalah bersama-sama meningkatkan standar higienitas agar sesuai ketentuan. Itu menjadi prioritas,” tegasnya.

‎Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Rembang, Agus Iwan Haswanto, berharap kunjungan Kementerian Pertanian dapat menjadi dasar lahirnya kebijakan yang lebih berpihak kepada petani tebu.

‎Menurut Agus, persoalan utama yang dihadapi petani saat ini adalah keterbatasan kapasitas pabrik gula dalam menyerap hasil panen, padahal produksi diperkirakan meningkat melalui program bongkar ratoon.

‎”Ketika produksi meningkat tetapi pabrik gula belum siap menyerap hasil panen, tentu hasilnya tidak akan optimal. Salah satu alternatif yang kami dorong adalah pengembangan gula tumbu,” ujarnya.

‎Pemkab Rembang sendiri menargetkan daerahnya menjadi salah satu sentra produksi tebu di Jawa Tengah. Saat ini luas areal tanaman tebu mencapai sekitar 8.000 hingga 9.000 hektare dan ditargetkan meningkat menjadi 10.000–12.000 hektare sebagai salah satu syarat berdirinya pabrik gula di Rembang.

‎Selain perluasan lahan, pemerintah daerah juga berharap adanya kepastian harga tebu, peningkatan rendemen, serta dukungan sarana dan prasarana, termasuk bantuan pupuk bagi petani.

‎Pada 2026, Kabupaten Rembang memperoleh program bongkar ratoon seluas sekitar 1.900 hektare yang disertai bantuan sekitar 60 ribu mata tunas dengan alokasi anggaran mencapai Rp3,6 miliar.

‎Di sisi lain, pemilik sentra pengolahan gula tumbu sekaligus mitra petani KPCM, Syued Hasyim, mengatakan usaha yang dirintis sejak 2004 itu masih menjadi salah satu sentra produksi gula merah tebu di Kecamatan Pamotan.

‎Ia mengungkapkan tantangan terbesar yang dihadapi adalah tingginya curah hujan karena proses produksi masih menggunakan peralatan konvensional.

‎”Kalau musim hujan produksi sangat terganggu. Harapan kami ada modernisasi alat sehingga biaya operasional lebih efisien dan bisa menggunakan bahan bakar alternatif,” katanya.

‎Dalam kondisi normal, sentra pengolahan tersebut mampu memproduksi sekitar satu ton gula tumbu per hari. Namun saat musim hujan, produksinya turun menjadi sekitar 700 kilogram per hari.

‎Produk gula tumbu asal Pamotan kini telah dipasarkan ke berbagai daerah, seperti Singkawang, Pontianak, Singosari, Pasuruan, hingga Gresik. Syued berharap pemerintah dapat memberikan dukungan modernisasi peralatan agar kualitas dan kapasitas produksi gula tumbu semakin meningkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending di Berita