Menu

Mode Gelap
Bupati Blora Dukung Peluncuran 295 Koperasi Merah Putih, Siap Perkuat Ekonomi Desa Satlantas Polres Grobogan Ungkap Kasus Tabrak Lari Maut di Purwodadi Petani Lansia di Dukuh Wadung Blora Meninggal Saat Beraktivitas di Lahan Dua Pemotor Terjatuh Akibat Tumpahan Solar, Damkar Blora Lakukan Pembersihan Jalan Koperasi BME Blora Kirim Perdana Minyak Mentah Sumur Rakyat ke Pertamina Seleksi JPT Pratama Blora, Wabup Sri Setyorini Tinjau Langsung Asesmen di Mabes Polri

Berita

Pelajar Bojonegoro Kembangkan Inovasi Bonggol Pisang sebagai Kandidat Agen Antikanker

badge-check


					Pelajar Bojonegoro Kembangkan Inovasi Bonggol Pisang sebagai Kandidat Agen Antikanker Perbesar

Klikjateng, Bojonegoro – Inovasi berbasis potensi lokal kembali ditunjukkan pelajar di Kabupaten Bojonegoro. Dua siswa SMP Negeri 1 Purwosari, Alvin Putra Pratama dan M. Ridwan Firdaus, berhasil mengembangkan penelitian berjudul “The Invisible Killer: Bio-Skrining Sitotoksisitas Musa paradisiaca sebagai Kandidat Agen Kemopreventif Alami”.

‎Penelitian tersebut menjadi terobosan dalam pemanfaatan limbah bonggol pisang sebagai bahan alternatif di bidang kesehatan. Berangkat dari tingginya angka penderita kanker serta mahalnya biaya pengobatan modern, inovasi ini menawarkan pendekatan sederhana namun berbasis ilmiah dengan memanfaatkan sumber daya lokal yang melimpah.

‎Selama ini, bonggol pisang kerap dianggap limbah pertanian tanpa nilai ekonomis. Namun melalui penelitian ini, bahan tersebut diolah menjadi ekstrak yang berpotensi sebagai agen kemopreventif atau pencegah perkembangan sel kanker.

‎Dalam prosesnya, Alvin dan Ridwan melakukan ekstraksi bonggol pisang menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol. Metode ini bertujuan menarik senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, tanin, dan saponin yang dikenal memiliki aktivitas antioksidan tinggi serta efek sitotoksik terhadap sel abnormal.

‎Keunggulan penelitian ini terletak pada pendekatan bio-skrining yang sederhana namun terukur. Keduanya menggunakan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) dengan memanfaatkan larva udang Artemia salina untuk menguji tingkat toksisitas ekstrak.

‎Melalui pengujian dalam beberapa konsentrasi, tingkat kematian larva diamati sebagai indikator potensi sitotoksisitas. Semakin kecil nilai LC50, semakin besar potensi ekstrak tersebut sebagai kandidat agen antikanker.

‎Selain itu, penelitian juga dilengkapi uji aktivitas antioksidan menggunakan metode berbasis larutan iodin. Uji ini bertujuan mengetahui kemampuan ekstrak dalam menetralisir radikal bebas yang menjadi salah satu pemicu utama kerusakan DNA dan terbentuknya sel kanker.

‎Tidak hanya berdampak pada aspek kesehatan, inovasi ini juga memiliki nilai keberlanjutan lingkungan. Pemanfaatan bonggol pisang menjadi bentuk upcycling limbah organik menjadi produk bernilai guna, sehingga turut berkontribusi dalam pengurangan limbah pertanian.

‎Penelitian yang dilakukan sejak April hingga Agustus 2026 ini dilaksanakan secara mandiri di laboratorium sekolah dengan pendampingan guru serta dukungan berbagai pihak, seperti Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP), BRIDA, Dinas Kesehatan, dan aparat Kecamatan Purwosari.

‎Melalui inovasi ini, Alvin dan Ridwan berharap bonggol pisang yang selama ini dianggap tidak bernilai dapat menjadi solusi alternatif bagi masyarakat, khususnya dalam menghadirkan pencegahan penyakit yang lebih terjangkau.

‎Kehadiran inovasi tersebut menjadi bukti bahwa generasi muda Bojonegoro mampu menghadirkan karya ilmiah yang tidak hanya kreatif, tetapi juga solutif, dengan mengangkat potensi lokal sebagai jawaban atas tantangan global di bidang kesehatan dan lingkungan.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending di Berita