Menu

Mode Gelap
Ganti Rugi Tanah Bendungan Karangnongko Blora Rp300 Ribu/Meter, Warga Terima hingga Rp1,2 Miliar Kemarau Panjang, Eva Monalisa Salurkan 200 Tangki Air Bersih ke 14 Kecamatan di Blora Bupati Kudus Sam’ani Beri Pesan Tegas ke 659 PPPK: Layani Masyarakat, Jangan Langgar Aturan Viral Rumah Mbah Samijah di Sambong Blora, Bupati Arief Turun Langsung dan Beri Bantuan 300 ASN Blora Ikuti Profiling di BKN Yogyakarta, Kerjakan 500 Soal dalam 150 Menit‎ Razia Gabungan di Rembang, 1.060 Batang Rokok Ilegal Diamankan dari Lasem-Pamotan

Berita

Pasar Hewan Blora Sepi Pembeli Jelang Lebaran, Harga Sapi Masih Normal

badge-check


					Pasar Hewan Blora Sepi Pembeli Jelang Lebaran, Harga Sapi Masih Normal Perbesar

Klikjateng, Blora – Jelang Lebaran 2025, pasar hewan (Pasar Pon) di Kabupaten Blora masih sepi pembeli. Meski demikian, harga sapi terpantau relatif normal.

Salah satu pedagang sapi, Angga, asal Kalitengah, Kecamatan Jiken, mengungkapkan bahwa harga sapi di pasar masih stabil, namun daya beli masyarakat menurun.

“Kalau harganya masih relatif normal, tetapi yang sepi pembelinya. Sebagian peternak di desa menjual dengan penawaran harga tinggi, padahal di pasar harganya standar sesuai ukuran, bobot, dan umur,” ujar Angga saat ditemui di Pasar Pon Blora, Sabtu (22/3/25).

Angga membawa empat ekor sapi pedaging ke pasar dan semuanya laku terjual. Namun, keuntungan yang diperoleh tidak besar.

“Saya bawa empat ekor sapi, beli dari peternak di desa, alhamdulillah laku semua, tapi untungnya habis buat ongkos angkutan dan perjalanan. Satu ekor itu kalau laku, untung Rp200.000,00 hingga Rp300.000,00 sudah bersyukur. Sepertinya ini masih dibayang-bayangi dampak penyakit mulut dan kuku (PMK),” katanya.

Senada dengan Angga, Solikin, pedagang asal Desa Nglebur, Kecamatan Jiken, juga mengeluhkan kondisi pasar yang kurang bergairah. Ia mengaku ada kalanya menjual sapi dengan harga lebih rendah dari harga beli di peternak.

“Misalnya saya beli dari peternak Rp16 juta, tetapi harga di pasar tidak sampai segitu, bisa naik dan bahkan turun. Tapi kalau laku tiga ekor sekaligus, meski untungnya tidak seberapa, bisa kembali modal,” ungkapnya.

Para pedagang juga menerapkan strategi harga yang berbeda di setiap waktu. Pada pagi hari, harga masih standar, tetapi menjelang siang dan menjelang tutup pasar, harga diturunkan untuk menarik pembeli.

“Itu pun masih saja tidak banyak yang minat membeli, sebagian hanya tanya-tanya saja. Akhirnya sapi dibawa pulang sambil menunggu hari pasaran berikutnya,” ujar Sukirman, pedagang sapi lainnya.

Kelesuan daya beli ini tidak hanya terjadi pada sapi pedaging dan sapi lokal, tetapi juga kambing, baik jenis lokal maupun Peranakan Etawa (PE).

Harga Hewan Ternak di Pasar Pon Blora

Sapi pedaging & lokal: Rp8.000.000,00 – Rp40.000.000,00

Kambing lokal (Jawa): Rp500.000,00 – Rp3.000.000,00

Kambing PE: Rp1.500.000,00 – Rp8.000.000,00

Sementara itu, Subroto, pedagang asal Desa Jepangrejo, Kecamatan Blora, menilai bahwa banyak petani menjual sapi mereka untuk kebutuhan Lebaran, modal tanam padi Musim Tanam 2 (MT2), serta persiapan tahun ajaran baru.

“Sebagian dari hasil penjualan ada yang dibelikan lagi sapi anakan (pedet) untuk dipelihara,” terangnya.

Di sisi lain, Kirman, pedagang di Pasar Pon Blora, menuturkan bahwa sapi bagi sebagian masyarakat masih dianggap sebagai “celengan” atau tabungan yang bisa dijual saat harga membaik.

“Sapi itu celengan, saat harga baik atau sudah untung kemudian dijual oleh pemiliknya. Hanya saja kami para pedagang tidak berani membeli terlalu banyak dari peternak,” ujarnya.

Dengan kondisi pasar yang masih lesu, para pedagang berharap menjelang Lebaran nanti permintaan akan meningkat sehingga roda perekonomian di sektor peternakan kembali bergairah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending di Berita