Menu ✖

Mode Gelap
Gastra Blora Salurkan Santunan untuk 3.000 Anak Yatim, Baznas Kumpulkan Rp1,4 Miliar per Bulan Viral Truk Tangki Agung Tirta Masuk Makam di Cepu, Warganet Heboh Bahas Makam yang Ditabrak 132 UMKM Blora Terima Bantuan Gerobak BRI Peduli, Eva Monalisa Dorong Usaha Kecil Naik Kelas Polsek Kedungtuban dan Bhayangkari Salurkan Bansos untuk Korban Puting Beliung di Nglandeyan PT Djarum Bedah 16 Rumah Warga Rembang, Bupati Harno Berharap Tahun Depan Bertambah Jadi 50 Unit Kasatreskrim Polres Blora AKP Andika Arya Pratama Siapkan Langkah Adaptif, Fokus Tingkatkan Kepercayaan Masyarakat ‎

Berita

SPPG Blora Sudah Operasikan 49 Dapur, Nilai Porsi Makan Mulai Rp8.000

badge-check


					SPPG Blora Sudah Operasikan 49 Dapur, Nilai Porsi Makan Mulai Rp8.000 Perbesar

Klikjateng, Blora – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Blora yang dijalankan melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) terus berjalan dengan dukungan berbagai pihak. Hingga kini, sudah ada 49 dapur yang beroperasi dari total 73 dapur yang direncanakan.

Kepala Koordinator SPPG Blora, Artika Diannita, mengungkapkan jumlah penerima manfaat program ini cukup besar.

“Di Blora ada sekitar 49 dapur yang beroperasi, ada lagi 6 SPPG yang sudah ada Kepala Dapur atau SPPI yang menunggu tanggal operasional, sehingga jumlah dapur mencapai 55, jumlah penerima manfaat per 22 September mencapai 137.861,” jelasnya.

Artika menyebutkan, kemitraan SPPG di Blora berasal dari beragam kalangan. Selain dari warga sipil melalui yayasan, ada pula keterlibatan satu anggota DPRD Blora dan satu kepala desa di Kecamatan Kedungtuban.

Terkait nilai makanan yang disalurkan, SPPG telah membaginya sesuai kategori usia dan kelompok penerima.

“Untuk balita, TK, PAUD, dan SD kelas 1–3 bahan bakunya senilai Rp8.000 per porsi. Sedangkan untuk SD kelas 4–6, SMP, SMA, serta ibu hamil dan menyusui nilainya Rp10.000 per porsi. Di luar itu ada biaya tambahan Rp2.000 untuk sewa serta Rp3.000 untuk operasional seperti listrik, gas, air, hingga relawan,” terangnya.

Menanggapi adanya keluhan soal kualitas makanan, seperti isu makanan berulat di Kecamatan Kunduran, Artika menegaskan perlunya pengecekan terlebih dahulu.

“Kita tidak bisa langsung menghakimi. Harus dicek dulu dari sekolah mana, dapurnya mana, dan kita survei ke beberapa tempat yang dilayani oleh satu dapur. Karena satu dapur bisa melayani banyak sekolah,” tegasnya.

Artika menambahkan, teknis pembagian makanan di sekolah sepenuhnya diserahkan kepada pihak sekolah.

“Kita sudah kerjasama, setiap sekolah ada PIC (penanggung jawab) yang mengurusi makanan. Kalau ada perubahan jadwal seperti libur atau pulang cepat, mereka harus konfirmasi ke kita,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa menjadi mitra SPPG membutuhkan modal yang tidak sedikit.

“Jika dihitung mulai dari bangunan dapur, peralatan masak, hingga kendaraan distribusi, modal yang dibutuhkan sekitar Rp1,5 miliar sampai Rp2 miliar untuk satu dapur,” katanya.

Dengan sistem kemitraan ini, SPPG Blora diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan dan gizi di daerah, terutama bagi anak-anak dan ibu hamil.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending di Berita