Menu

Mode Gelap
Truk dan Pick up Terlibat Kecelakaan di Jalan Blora–Cepu, Tiga Orang Terlibat Insiden Kementan Dorong Pengembangan Gula Tumbu di Rembang, Jadi Alternatif Hilirisasi Tebu ‎ Lebih dari Sekadar Dakwah, Bupati Tantang Muslimat NU Blora Kembangkan Pertanian Organik dan Ayam Kampung Peringati Hari Anak Nasional, Pemkab Blora Gelar FABLO 2026, Bupati Ajak Anak Peduli Lingkungan dan Lestarikan Tradisi ‎ Pemkab Blora dan Polres Salurkan Bantuan Air Bersih, Bupati: APBD Siapkan 1.400 Tangki untuk Atasi Kekeringan ‎ Truk Ditabrak KA Ambarawa di Perlintasan Tanpa Palang Pintu Jati, Sopir Alami Luka Berat

Berita

Kasus DBD di Blora Menurun, Dinkes Intensifkan Upaya Pencegahan di Musim Penghujan

badge-check


					Kasus DBD di Blora Menurun, Dinkes Intensifkan Upaya Pencegahan di Musim Penghujan Perbesar

Klikjateng, Blora – Jumlah kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Blora mengalami penurunan yang signifikan dalam tiga tahun terakhir. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Blora, pada tahun 2022 tercatat 594 kasus dengan 15 kematian. Tahun 2023, angka tersebut menurun drastis menjadi 266 kasus dengan 12 kematian. Hingga November 2024, jumlah kasus mencapai 347 dengan 9 korban meninggal dunia.

Kepala Dinas Kesehatan Blora, Edi Widayat, menyatakan bahwa meskipun ada sedikit kenaikan kasus pada tahun 2024 dibanding 2023, tren jangka panjang menunjukkan penurunan yang signifikan “Kami terus memantau kasus, terutama di musim penghujan, karena ini merupakan periode rawan penyebaran DBD,” ujarnya.

Distribusi Kasus DBD Mingguan Tahun 2024

Sepanjang tahun 2024, distribusi mingguan kasus DBD menunjukkan fluktuasi. Jumlah kasus mingguan tertinggi tercatat pada minggu ke-1 hingga ke-6, dengan puncak 116 kasus pada minggu ke-3. Angka tersebut menurun drastis hingga mencapai 27 kasus pada minggu ke-25, kemudian kembali meningkat pada akhir tahun dengan 76 kasus pada minggu ke-42.

Langkah Preventif Dinas Kesehatan

Untuk mencegah lonjakan kasus DBD, Dinas Kesehatan Blora mengintensifkan berbagai upaya, terutama di musim penghujan. Berikut langkah-langkah yang dilakukan:

1. Sosialisasi Gerakan 3M Plus
Edukasi tentang pentingnya Menguras, Menutup, dan Mengubur (3M) terus digencarkan. Langkah ini ditambah dengan penggunaan kelambu, lotion anti nyamuk, dan fogging di area yang terindikasi sebagai klaster DBD.

2. Pemantauan Jentik Nyamuk
Program Juru Pemantau Jentik (Jumantik) rutin dilakukan dengan melibatkan masyarakat. “Kami mendorong keterlibatan aktif masyarakat melalui program Jumantik, karena pencegahan harus dimulai dari lingkungan terkecil,” kata Edi.

3. Fogging Terfokus
Fogging dilakukan di daerah-daerah dengan kasus DBD terkonfirmasi untuk memutus siklus hidup nyamuk Aedes aegypti. Namun, Edi menegaskan bahwa fogging hanya tindakan darurat.

4. Peningkatan Fasilitas Kesehatan
Dinas Kesehatan memastikan ketersediaan fasilitas kesehatan, seperti ruang rawat inap dan obat-obatan di rumah sakit serta puskesmas, untuk menangani pasien DBD.

5. Edukasi dan Kesiapsiagaan
Penyuluhan di tingkat kecamatan terus dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya DBD dan cara pencegahannya.

Peran Aktif Masyarakat

Edi Widayat menekankan pentingnya peran masyarakat dalam menekan penyebaran DBD. “Kebersihan lingkungan harus menjadi prioritas bersama, terutama di musim penghujan. Jika masyarakat disiplin menerapkan langkah pencegahan, kita bisa meminimalkan risiko,” pungkasnya.

Dinkes Blora akan terus meningkatkan langkah preventif dan responsif untuk memastikan kasus DBD dapat ditekan lebih jauh di masa mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending di Berita