Menu

Mode Gelap
Diduga Akibat Bakar Sampah, Rumah dan Kandang Warga Sembongin Ludes Terbakar Program 40.000 Desa Budidaya Ikan Disiapkan, Pemerintah Adopsi Teknologi Mini RAS dari Norwegia ‎ Pemkab Rembang Perpanjang Kontrak 1.198 PPPK Selama Satu Tahun 18 Peserta Ikuti Seleksi Perangkat Desa Jagong, Empat Formasi Kosong Siap Diisi ‎ Gebyar GASTRA 10 Muharam, Baznas Blora Santuni 815 Anak Yatim Seleksi Perangkat Desa Kemiri Diikuti 10 Peserta, Enam Jabatan Kosong Akan Diisi ‎

Berita

Program 40.000 Desa Budidaya Ikan Disiapkan, Pemerintah Adopsi Teknologi Mini RAS dari Norwegia ‎

badge-check


					Program 40.000 Desa Budidaya Ikan Disiapkan, Pemerintah Adopsi Teknologi Mini RAS dari Norwegia ‎ Perbesar

Klikjateng Jakarta – Pemerintah mulai menyiapkan pengembangan budidaya ikan skala besar di 40.000 desa sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan produksi protein hewani masyarakat.

‎Program yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto tersebut akan memanfaatkan teknologi Mini Recirculating Aquaculture System (Mini RAS) yang diadopsi dari Norwegia.

‎Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, mengatakan pengembangan budidaya tematik di desa-desa menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan produksi perikanan nasional di tengah kebutuhan pangan yang terus bertambah.

‎”Budidaya tematik di setiap desa akan kita bangun menggunakan teknologi Mini RAS. Ini teknologi yang bagus dan kita adopsi dari Norwegia,” kata Trenggono dalam Economic Update 2026 CNBC Indonesia, Kamis (25/6/2026).

‎Menurutnya, program tersebut akan dilaksanakan secara bertahap. Namun jika target pembangunan 40.000 desa budidaya dapat direalisasikan seluruhnya, kebutuhan benih ikan nasional akan meningkat drastis.

‎Trenggono memperkirakan kebutuhan benih ikan bisa mencapai sekitar 15 miliar ekor per tahun untuk mendukung operasional budidaya di seluruh desa yang menjadi sasaran program.

‎Ia menjelaskan bahwa pengembangan budidaya tidak akan dilakukan secara seragam. Komoditas yang dibudidayakan akan disesuaikan dengan karakteristik wilayah, kebiasaan konsumsi masyarakat, serta peluang pasar yang tersedia.

‎Di Pulau Jawa, misalnya, pemerintah akan fokus pada komoditas yang banyak diminati masyarakat seperti lele dan nila. Sementara di luar Jawa, komoditas yang dikembangkan antara lain ikan mas, gurame, hingga patin yang memiliki potensi pasar domestik maupun ekspor.

‎”Nanti kita sesuaikan dengan kondisi permintaan di masing-masing wilayah dan sekaligus untuk kepentingan ekspor,” ujarnya.

‎Di sisi lain, Trenggono memastikan produksi sektor perikanan nasional saat ini masih mampu memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri. Produksi perikanan tangkap Indonesia mencapai rata-rata 7,5 juta ton per tahun, sementara produksi budidaya sekitar 5,5 juta ton.

‎Dengan demikian, total produksi ikan nasional mencapai sekitar 13 juta ton per tahun. Selain itu, produksi rumput laut nasional mencapai sekitar 10 juta ton per tahun sehingga total produksi sektor kelautan dan perikanan mencapai sekitar 24 juta ton setiap tahun.

‎Ia juga menegaskan bahwa sektor perikanan Indonesia hingga kini masih mencatatkan surplus neraca perdagangan. Nilai ekspor perikanan Indonesia mencapai sekitar US$6,5 miliar per tahun, sedangkan nilai impor hanya berkisar US$600 juta.

‎”Indonesia selalu surplus. Artinya ekspor kita lebih tinggi dibandingkan impornya,” kata Trenggono.

‎Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa sektor perikanan nasional tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan protein masyarakat dalam negeri, tetapi juga memberikan kontribusi positif terhadap perekonomian melalui ekspor.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending di Berita