Klikjateng, Blora — Semangat juang para petani tebu yang tergabung dalam Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Kabupaten Blora terus menggelora. Mereka menegaskan tidak akan surut sebelum janji Direktur Utama Bulog yang disampaikan dalam pertemuan di Jakarta pada Januari 2026 benar-benar direalisasikan.
Hal tersebut disampaikan Ketua APTRI Blora, Sunoto, dalam pertemuan bertajuk “Diplomasi Kuliner” yang digelar di sebuah kafe di wilayah Karangjati, Blora, Rabu (1/4/2026).
Menurut Sunoto, janji Dirut Bulog tersebut sebelumnya disampaikan dan disaksikan langsung oleh Arief Rohman, Sri Setyorini, serta Mustopa saat pertemuan di kantor pusat Bulog, Jakarta.
“Semangat juang petani tebu tidak akan padam sebelum janji tersebut dipenuhi. Ini menyangkut nasib dan keberlangsungan hidup para petani,” tegasnya.
Pertemuan tersebut menjadi ajang konsolidasi sekaligus penguatan komitmen menjelang aksi damai yang akan digelar di Alun-alun Blora pada Kamis (2/4/2026). Aksi ini diperkirakan akan diikuti sekitar 3.000 peserta, terdiri dari petani tebu, sopir angkut, penebang, tenaga kebun, hingga warga sekitar.
Dalam aksi tersebut, peserta juga akan didukung 182 armada truk, tiga unit jonder, dua perangkat sound system, serta empat kelompok kesenian barongan.
Adapun tuntutan utama yang akan disuarakan dalam aksi damai tersebut meliputi:
Perbaikan dua unit boiler milik PT GMM Bulog agar proses giling tebu 2026 dapat berjalan.
Reformasi total manajemen PT GMM Bulog dengan menghadirkan SDM yang profesional dan berintegritas.
Menghidupkan kembali kemitraan tripartit antara petani, manajemen pabrik gula, dan pemerintah daerah.
Jika tidak mampu mengelola, Bulog diminta melepas pengelolaan pabrik gula kepada pihak yang lebih profesional.
Sunoto menegaskan bahwa aksi yang akan digelar dipastikan berlangsung damai, tertib, dan aman. Ia juga menyebut pihaknya telah berkoordinasi dengan aparat kepolisian terkait rencana aksi tersebut.
Sementara itu, tokoh masyarakat Agus Joko Susilo mengingatkan agar seluruh peserta tetap waspada terhadap potensi adanya pihak luar atau “penumpang gelap” yang dapat memanfaatkan aksi untuk kepentingan lain.
“Perlu diantisipasi sejak dini adanya pihak yang ingin menunggangi aksi ini. Kita harus tetap fokus pada tujuan perjuangan,” ujarnya.
Di sisi lain, salah satu petani tebu, Mudo, mengaku telah menyiapkan berbagai kebutuhan logistik bagi peserta aksi, mulai dari konsumsi hingga perlengkapan lainnya, sebagai bentuk dukungan terhadap perjuangan bersama.
Hal senada disampaikan petani milenial Untoro dan Hery yang turut ambil bagian dalam aksi. Mereka mengaku tergerak secara nurani melihat kondisi petani tebu yang dinilai kerap dirugikan akibat janji-janji yang tak kunjung terealisasi.
Dalam kesempatan tersebut, Penasehat APTRI Blora, Bambang Sulistya, berpesan agar seluruh peserta tetap menjaga ketertiban dan menghindari tindakan anarkis selama aksi berlangsung.
“Jaga kekompakan dan kerukunan. Semoga perjuangan ini membuahkan hasil yang terbaik bagi petani tebu,” pungkasnya.






