Menu

Mode Gelap
Pemuda di Blora Tusuk Lawannya Usai Cekcok Dipicu Saling Ejek Polres Blora Gelar Gerakan Pangan Murah, Warga Serbu Beras dan Minyak Goreng Murah di Bulan Ramadan Rumah Kayu Milik Petani di Jiken Blora Ludes Terbakar, Kerugian Capai Rp53 Juta Kuasa Hukum Cimut Minta Polisi Usut Tuntas Kasus Pengeroyokan di Ngawen Blora Kejari Rembang Gelar Pasar Murah Jelang Ramadan, Ratusan Paket Sembako Ludes dalam Sejam ‎ Warga Nglobo Hadang Truk Rig, Jalan Rusak dan Insiden Terserempet Picu Protes

Berita

Waduk Greneng Kian Butuh Perhatian, Pengelola Ungkap Kondisi Aktual

badge-check


					Waduk Greneng Kian Butuh Perhatian, Pengelola Ungkap Kondisi Aktual Perbesar

Klikjateng, Blora – Waduk Greneng di Dukuh Greneng, Desa Tunjungan, Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora. Dengan luas kurang lebih 64 hektare, menyimpan potensi besar sebagai sumber pengairan pertanian sekaligus destinasi wisata alam. Namun hingga kini, pengelolaan waduk tersebut dinilai belum mendapatkan perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Blora.

Hal itu disampaikan Sujaedi, salah satu pengelola perahu di Waduk Greneng, saat ditemui di lokasi. Ia menyebutkan bahwa Waduk Greneng sejauh ini masih dipandang “sebelah mata” oleh pemerintah daerah.

“Kalau tantangannya ya itu, Pemkab Blora kelihatannya melihat waduk ini hanya sebelah mata,” ujar Sujaedi. Rabu (24/12/2025).

Sujaedi sendiri bukan warga asli setempat. Ia berasal dari Kecamatan Ngawen dan mulai menetap serta beraktivitas di sekitar Waduk Greneng sejak tahun 1991. Menurutnya, fungsi utama waduk hingga kini masih sebatas untuk pengairan pertanian.

Meski demikian, Waduk Greneng juga dimanfaatkan sebagai wisata air sederhana. Sujadi mengelola sekitar 20 unit perahu yang disewakan kepada pengunjung dengan tarif Rp20 ribu per hari. Mayoritas pengunjung memanfaatkan perahu untuk memancing atau sekadar berkeliling waduk.

“Banyak yang mancing, bahkan dari Solo. Kalau keliling waduk bisa sampai seberang, lewat Kelapanan dan Ngasinan,” jelasnya.

Ia juga menyebutkan bahwa waduk memiliki potensi perikanan yang melimpah, seperti ikan tombro, nila, patin, bawal, hingga udang berukuran besar. Namun, seluruhnya masih bersifat alami dan belum dikelola secara budidaya.

“Masih liar semua. Padahal kalau dikembangkan, potensinya besar,” imbuhnya.

Sementara itu, dari sisi wisatawan, Waduk Greneng dinilai memiliki panorama yang menarik. Hal tersebut diungkapkan Fitri, wisatawan asal Desa Sendangwungu, Kecamatan Banjarejo, yang kerap berkunjung ke lokasi tersebut.

“Menurut saya bagus, view-nya hampir mirip Sarangan, tapi versi sederhana. Bisa dibilang Sarangannya Blora,” ucap Fitri.

Meski begitu, ia menilai masih banyak kekurangan yang perlu dibenahi, seperti keterbatasan sinyal, minimnya penghijauan, penataan kawasan yang belum rapi, serta kebersihan yang kurang terjaga.

“Kurang hijau dan kurang tertata. Kebersihannya juga masih kurang,” katanya.

Sebagai wisatawan, Fitri mengaku Waduk Greneng menjadi pilihan wisata yang ekonomis dan cocok untuk menenangkan pikiran karena lokasinya jauh dari keramaian kota.

Ia berharap ke depan Waduk Greneng bisa lebih terawat, dilengkapi dengan penghijauan di area pinggiran, fasilitas pendukung wisata, hingga pembangunan resto atau penginapan yang memanfaatkan panorama waduk.

“Kalau ada resto atau fasilitas yang lebih bagus, pasti tambah menarik,” pungkasnya.

Baik pengelola maupun wisatawan berharap Waduk Greneng mendapat perhatian lebih dari pemerintah daerah agar potensi besar yang dimiliki bisa dikelola secara maksimal dan berkelanjutan.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending di Berita