Menu

Mode Gelap
Pemuda di Blora Tusuk Lawannya Usai Cekcok Dipicu Saling Ejek Polres Blora Gelar Gerakan Pangan Murah, Warga Serbu Beras dan Minyak Goreng Murah di Bulan Ramadan Rumah Kayu Milik Petani di Jiken Blora Ludes Terbakar, Kerugian Capai Rp53 Juta Kuasa Hukum Cimut Minta Polisi Usut Tuntas Kasus Pengeroyokan di Ngawen Blora Kejari Rembang Gelar Pasar Murah Jelang Ramadan, Ratusan Paket Sembako Ludes dalam Sejam ‎ Warga Nglobo Hadang Truk Rig, Jalan Rusak dan Insiden Terserempet Picu Protes

Berita

Mbah Min, Penjual Jamu Tradisional dari Jepon: Setia Meracik Sejak Dua Dekade Lalu, Berharap Bisa Bangun Rumah dari Usaha Jamu

badge-check


					Mbah Min, Penjual Jamu Tradisional dari Jepon: Setia Meracik Sejak Dua Dekade Lalu, Berharap Bisa Bangun Rumah dari Usaha Jamu Perbesar

Klikjateng, Blora – Di tengah derasnya arus modernisasi, Mbah Min (71), warga Desa Jepon, Kecamatan Jepon, Blora, masih setia melestarikan warisan leluhur: jamu tradisional. Selama hampir 20 tahun, ia berkeliling dari desa ke desa menjajakan aneka ramuan herbal yang diraciknya sendiri, dengan harapan tak sekadar mencari nafkah, tapi juga menyehatkan warga sekitar.

“Saya mulai jualan jamu ini hampir 20 tahun lalu, setelah sebelumnya pernah kerja di Solo di pabrik jamu selama lima tahun sejak tahun 1981,” kenang Mbah Min saat ditemui. Senin (12/05/25).

Beragam Jenis Jamu dan Harga Terjangkau

Setiap harinya, Mbah Min menawarkan berbagai jenis jamu yang sudah akrab di lidah masyarakat Jawa. Mulai dari kunir asem yang menyegarkan, temu lawak untuk menjaga kesehatan hati, hingga paitan dan jamu wejahan yang berkhasiat untuk berbagai keluhan tubuh.

“Yang botolan itu ada yang 1600 mililiter, harganya antara Rp20 ribu sampai Rp25 ribu. Kalau jamu lambung itu lebih mahal, Rp30 ribu. Kalau yang gelasan cukup Rp5 ribu,” jelasnya.

Racikan Sendiri, Bahan dari Pasar

Semua jamu yang dijual Mbah Min adalah hasil racikannya sendiri. Ia membeli bahan-bahan seperti rimpang, daun, dan rempah di pasar tradisional. Proses peracikan dilakukan secara manual, tanpa tambahan bahan kimia, sehingga kualitas dan kealamiannya tetap terjaga.

“Saya racik sendiri mas, bahannya beli dari pasar,” ujarnya sambil menunjukkan botol-botol jamu yang siap dijual.

Jangkau Pasar Pedesaan, Tak Kenal Lelah

Setiap hari, Mbah Min berjualan dengan cara berkeliling ke berbagai desa di seputaran Kecamatan Jepon, seperti Desa Ketringan, Waru, Soko, Begedad, Jatimalang, hingga Kajar. Ia mengandalkan kendaraan motor tua menyusuri jalanan yang tak selalu mulus.

“Tantangan paling berat ya pas jalanan rusak atau naik turun mas, apalagi kalau habis hujan,” kata Mbah Min.

Modal yang dibawanya setiap kali berjualan sekitar Rp150 ribu. Keuntungan yang diperoleh pun bervariasi tergantung kondisi pasar. “Kadang sepi, kadang rame. Kalau sepi bisa dapat Rp300 ribu, kalau rame ya lebih dari itu,” katanya lirih.

Pelanggan dari Semua Kalangan, Tapi Belum Tersentuh Bantuan Pemerintah

Menurut Mbah Min, pelanggan jamunya berasal dari semua kalangan usia, mulai dari ibu rumah tangga, pekerja hingga lansia. Namun sayangnya, selama berjualan hampir dua dekade, ia belum pernah mendapatkan bantuan atau pelatihan dari pemerintah ataupun lembaga terkait.

“Belum pernah dapat bantuan apa-apa mas, pelatihan juga belum pernah,” ungkapnya.

Harapan dan Cita-Cita: Ingin Bangun Rumah dan Belajar Jualan Online

Meski usia tak lagi muda, Mbah Min masih menyimpan asa. Ia berharap usahanya bisa terus berkembang dan membawa kesejahteraan bagi keluarga. Ia juga ingin memperluas pemasaran, meski terkendala teknologi.

“Saya pengin bisa jualan lebih bagus, pakai kemasan atau online gitu, tapi saya tidak bisa caranya mas. Saya juga gak pegang HP,” kata Mbah Min pelan.

Dengan semangat yang tak surut dan dedikasi terhadap tradisi, Mbah Min adalah contoh nyata bagaimana warisan budaya bisa bertahan dalam balutan kesederhanaan. Ia hanya berharap, ada perhatian lebih dari pemerintah dan masyarakat agar jamu tradisional tetap lestari dan mampu bersaing di tengah zaman yang terus berubah.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending di Berita