Klikjateng, Blora – Warga Plumpung, Desa Nglobo, Kecamatan Jiken, kembali menyuarakan kekecewaan atas terbengkalainya sejumlah pekerjaan pengembangan wisata Plumpung serta minimnya keterlibatan warga dalam program Pertamina. Hal tersebut disampaikan Puji atau akrab disapa Mas Kuntring, warga RT 2 RW 1 Plumpung, saat ditemui di lokasi wisata.
Menurutnya, selama ini rekrutmen tenaga kerja oleh Pertamina masih didominasi “orang dalam”, sehingga pemuda lokal sulit terserap.
“Kalau rekrutmen itu ya hampir separuh lebih lah orang dalam. Pemuda-pemuda sini yang baru lulus kan banyak yang belum punya sertifikat migas, jadi jarang dipakai,” ujarnya. Minggu (23/11/2025).
Pekerjaan Tiba-tiba Dihentikan
Kuntring mengungkapkan bahwa pengolahan limbah dan sejumlah pekerjaan lain sebelumnya sudah berjalan cukup lama, namun tiba-tiba dihentikan tanpa pemberitahuan jelas.
“Info yang kami terima, Pertamina sudah menunjuk CV atau vendor baru untuk melanjutkan pekerjaan yang tertunda. Tapi setelah itu langsung stop. Mau dibantu vendor, ternyata juga nggak berjalan,” jelasnya.
Ia menyebut, bantuan CSR yang katanya ada pun tidak pernah diinformasikan secara terbuka kepada warga.
“Selama saya di sini nggak pernah ada transparansi. Nilainya berapa, material apa saja, kita nggak tahu,” tegasnya.
Pelatihan Belum Menyentuh Kebutuhan Kerja
Terkait pelatihan dari Pertamina, Kuntring menyebut memang pernah ada, namun tidak berkaitan dengan kebutuhan skill migas yang dibutuhkan untuk bekerja.
“Pernah ada pelatihan bikin kompos. Tapi untuk penunjang pekerjaan migas, belum pernah,” tambahnya.
Ia berharap pemuda lokal bisa lebih diberdayakan.
“Lowongan banyak, apalagi yang pensiun. Harapannya ya staff boot bisa diisi warga sini, entah nanti jadi mekanik atau operator,” katanya.
Proyek Mangkrak di Wisata Plumpung
Di kawasan wisata Plumpung, Kuntring menunjukkan sejumlah fasilitas yang mangkrak.
“Paving, jalan, parkiran, flying fox, jembatan layang, camping ground — banyak yang mangkrak. Rumput sudah tinggi. Lihat itu saja kami sebel. Kalau iya ya kerjakan, kalau enggak ya stop sekalian, jangan digantung,” tegasnya.
Ia juga menyebut beberapa fasilitas seperti gazebo dibangun swadaya warga, bukan dari vendor.
Minim Sosialisasi Pengembangan Wisata 2028
Terkait rencana pengembangan wisata hingga 2028, warga mengaku belum pernah dilibatkan penuh.
“Soal rapat, saya sebagai pengelola jarang dilibatkan. Paling cuma beberapa kali saja. Info yang kami terima sering ngulur-ngulur. Katanya bulan depan dibangun, ternyata tidak. Ya digantung,” keluhnya.
Fasilitas Paling Mendesak: Jalan Poros
Kuntring menegaskan bahwa warga membutuhkan perbaikan jalan poros sebagai fasilitas paling mendesak.
“Jalan harusnya dicor, Mas. Yang lewat sini bukan cuma Pertamina, tapi juga Perhutani. Apalagi ini akses wisata. Harapan kami cuma jalan bagus, itu saja sudah senang,” katanya.
Harapan Warga: Transparansi dan Pelibatan Pemuda
Kuntring menutup dengan harapan agar pemerintah desa dan stakeholder lebih terbuka dalam pengelolaan CSR dan rencana pembangunan.
“Transparan saja. Nilainya berapa, kebutuhannya apa. Libatkan Karang Taruna, Bumdes, organisasi warga. Jangan jalan sendiri,” pungkasnya.






