Menu

Mode Gelap
Lindu Aji Blora Bangkit Setelah Tiga Tahun Vakum, Gelar Muscab dan Reorganisasi Kapolri Resmikan 19 Jembatan Merah Putih Presisi di Jawa Tengah, Perkuat Akses dan Kedekatan Polri–Masyarakat Aksi Heroik Kabid Humas Polda Jateng Dorong Mobil Mogok dari Perlintasan Kereta Api Polres Blora Raih Penghargaan TRCPPA atas Respon Cepat Tangani Kasus Perempuan dan Anak Bupati Arief Rohman Hadiri Pemilihan Pengurus IMPARA UNNES, Tegaskan Dukungan Pemkab Blora untuk Mahasiswa Pesona Air Terjun Kalimancur, Surga Wisata Alam di Lereng Pegunungan Lasem

Berita

Pemkab Blora Mutasi Empat Pelajar Terlibat Kasus Bullying, Upaya Pulihkan Kondisi Sekolah dan Siswa

badge-check


					Pemkab Blora Mutasi Empat Pelajar Terlibat Kasus Bullying, Upaya Pulihkan Kondisi Sekolah dan Siswa Perbesar

Klikjateng, Blora – Pemerintah Kabupaten Blora mengambil langkah tegas terhadap kasus perundungan (bullying) yang terjadi di salah satu Sekolah Menengah Pertama (SMP) di wilayah setempat dengan memindahkan empat pelajar yang diduga terlibat. Kebijakan tersebut merupakan hasil kesepakatan bersama antara orang tua, pihak sekolah, kepolisian, dan instansi terkait sebagai bagian dari upaya pembinaan serta menjaga suasana kondusif proses belajar mengajar.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Blora, Sunaryo, mengatakan keputusan mutasi ini dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai aspek psikologis dan sosial baik bagi korban maupun pelaku.

“Langkah pemindahan empat siswa dilakukan agar proses belajar mengajar tetap kondusif. Ini sudah disepakati bersama seluruh pihak. Kami juga menugaskan pengawas sekolah untuk melakukan pendampingan psikologis terhadap korban maupun pelaku,” ujarnya di Blora, Selasa (12/11/2025).

Sunaryo menegaskan, mutasi tersebut bukan bentuk hukuman, melainkan langkah pembinaan agar para pelajar dapat memperbaiki diri di lingkungan baru. “Kami berharap suasana baru bisa membantu anak-anak tersebut menjadi lebih baik. Kalau tetap di sekolah semula, dikhawatirkan korban akan semakin trauma. Jadi ini kami lihat dari sisi positifnya,” katanya.

Dinas Pendidikan Blora kini tengah menyiapkan program pembinaan karakter di seluruh satuan pendidikan sebagai upaya pencegahan agar kasus serupa tidak terulang di masa mendatang.

Sementara itu, kepala sekolah tempat kejadian tersebut menyampaikan bahwa keputusan pemindahan empat pelajar diambil setelah melalui proses mediasi secara kekeluargaan yang melibatkan guru, orang tua, pihak kepolisian, Dinas Pendidikan, dan tokoh masyarakat.

Dari empat pelajar yang dimutasi, dua di antaranya diduga berperan sebagai provokator, satu sebagai perekam video, dan satu lainnya pelaku utama. Diketahui, dua pelajar duduk di kelas 7 dan dua lainnya di kelas 9, sementara korban merupakan siswa kelas 8. Peristiwa perundungan terjadi pada Jumat (8/11/2025) saat jam istirahat.

Pihak sekolah pun menyampaikan permohonan maaf atas insiden yang mencoreng nama baik sekolah.

Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Kabupaten Blora, Luluk Kusuma Agung Ariadi, menambahkan bahwa pihaknya telah menyiapkan pendampingan lanjutan kepada para siswa yang terlibat dalam kasus tersebut.

“Kami sudah menjadwalkan pendampingan psikologis bagi korban maupun pelaku. Untuk pelaku, pendampingan ini akan kami monitor secara berkelanjutan agar perkembangan perilaku dan mentalnya dapat terpantau dengan baik,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pendampingan psikologis bertujuan membantu korban memulihkan diri dari trauma sekaligus membimbing pelaku agar menyadari kesalahan dan tidak mengulangi perbuatannya.

“Pendekatan kami bersifat edukatif dan rehabilitatif, bukan menghukum. Harapannya, anak-anak ini bisa kembali fokus pada pendidikan dan tumbuh dengan karakter yang lebih baik,” tambahnya.

Kasus perundungan di SMP Blora ini sebelumnya menjadi perhatian publik setelah video berdurasi 25 detik beredar luas di media sosial. Dalam video tersebut, tampak seorang siswa mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari beberapa teman sekelas di dalam kamar mandi sekolah. Korban terlihat dipukul dan diejek, sementara siswa lain hanya menonton tanpa berusaha melerai.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending di Berita