Menu

Mode Gelap
Lindu Aji Blora Bangkit Setelah Tiga Tahun Vakum, Gelar Muscab dan Reorganisasi Kapolri Resmikan 19 Jembatan Merah Putih Presisi di Jawa Tengah, Perkuat Akses dan Kedekatan Polri–Masyarakat Aksi Heroik Kabid Humas Polda Jateng Dorong Mobil Mogok dari Perlintasan Kereta Api Polres Blora Raih Penghargaan TRCPPA atas Respon Cepat Tangani Kasus Perempuan dan Anak Bupati Arief Rohman Hadiri Pemilihan Pengurus IMPARA UNNES, Tegaskan Dukungan Pemkab Blora untuk Mahasiswa Pesona Air Terjun Kalimancur, Surga Wisata Alam di Lereng Pegunungan Lasem

Berita

Pak Karmin, Penjual Pakan Ternak di Blora: “Harus Sabar Menunggu Pembeli”

badge-check


					Pak Karmin, Penjual Pakan Ternak di Blora: “Harus Sabar Menunggu Pembeli” Perbesar

Klikjateng, Blora – Berjualan pakan ternak menjadi mata pencaharian utama bagi Pak Karmin, warga Desa Geneng, Kecamatan Jepon, Blora. Sejak tahun 2000, ia telah menjalankan usaha ini dengan penuh ketekunan, menjual berbagai jenis makanan ternak seperti damen (dami), kolonjono (rumput kerbau), dan tebon.

Lapak sederhana milik Pak Karmin berada di lokasi strategis, tepat di pertigaan lampu merah Jepon, di tepi Jalan Nasional Blora – Cepu. Dari titik ini, jika ke timur menuju Cepu, sedangkan ke utara menuju Jatirogo. Posisi ini memudahkan pelanggan, terutama para peternak, untuk mampir dan membeli pakan ternak yang ia jual.

Dalam perjalanannya sebagai penjual pakan ternak, Pak Karmin menghadapi berbagai tantangan, mulai dari pasokan yang tidak selalu stabil hingga perubahan tren peternakan di masyarakat. Namun, ia tetap bertahan dengan modal sendiri, tanpa adanya bantuan dari pihak lain.

Pasokan dari Masyarakat dan Daerah Luar Blora

Pak Karmin mendapatkan stok pakan ternak dari masyarakat sekitar yang menjual langsung kepadanya. Namun, jika pasokan di daerahnya terbatas, ia mencari bahan baku hingga ke luar kota.

“Ada yang setor ke kita, dari masyarakat. Kalau susah cari pakan, kita cari di Ponorogo dan Ngawi,” ujarnya. Sabtu (22/2/25).

Pasokan pakan ternak yang ia beli dari masyarakat sekitar tidak selalu memiliki harga tetap. Untuk damen, misalnya, ia membelinya dengan harga kurang dari Rp20 ribu per ikat. Harga jualnya bervariasi, mulai dari Rp20 ribu hingga Rp25 ribu, tergantung ukuran dan ketebalan ikatan.

“Semua tergantung besar kecilnya ikatan, kita cuma ngira-ngira begitu,” tambahnya.

Selain membantu memenuhi kebutuhan pakan ternak di wilayahnya, usaha Pak Karmin juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. “Orang dari Desa Prantaan, Bogorejo, sering setor ke sini. Ya, lumayan bisa menyerap tenaga kerja, jadi bisa buat tambahan uang dapur,” ungkapnya.

Penurunan Permintaan Akibat Wabah PMK

Dalam menjalankan usahanya, Pak Karmin mengakui bahwa pendapatannya tidak menentu. “Kadang dapat Rp100 ribu, kadang kurang, kadang lebih. Tidak pasti,” katanya.

Ia juga melihat adanya perubahan dalam tren permintaan pakan ternak. Saat ini, penjualannya mengalami sedikit penurunan akibat wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang menyerang sapi.

“Banyak sapi yang mati kena PMK, sekarang kebanyakan masyarakat beli ternaknya kambing,” jelasnya.

Seiring dengan perubahan pola peternakan di masyarakat, jenis pakan ternak yang paling banyak dicari pun berubah. “Kalau saat ini kebanyakan ya damen,” tambahnya.

Persaingan dan Strategi Pemasaran

Meskipun banyak pedagang pakan ternak di Blora, Pak Karmin mengaku tidak terlalu merasakan persaingan yang ketat. Menurutnya, harga jual pakan ternak di pasaran relatif stabil, sehingga tidak ada kendala berarti dalam persaingan usaha.

“Tidak ada masalah soal harga, semua berjalan seperti biasa,” katanya.

Namun, berbeda dengan penjual lain yang mulai memanfaatkan media sosial untuk memasarkan produknya, Pak Karmin masih mengandalkan penjualan langsung di lokasi. Ia mengaku tidak memiliki akun Facebook, TikTok, atau platform digital lainnya untuk promosi.

“Tidak punya media sosial, saya hanya jualan di pinggir jalan seperti biasa,” ujarnya.

Pelanggan Pak Karmin mayoritas adalah peternak kecil yang membeli pakan dalam jumlah tertentu setiap beberapa hari sekali. Seorang pembeli bernama Hengki mengungkapkan alasannya membeli pakan ternak di tempat Pak Karmin.

“Karena waktunya tidak cukup untuk mencari sendiri,” kata Hengki.

Tantangan dan Harapan di Masa Depan

Menjalankan usaha pakan ternak bukan tanpa risiko. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Pak Karmin adalah ketika stok pakan tidak laku terjual.

“Kalau tidak laku ya kering,” katanya singkat.

Meskipun telah berjualan pakan ternak selama lebih dari dua dekade, Pak Karmin sendiri tidak memiliki ternak di rumah. Ia hanya fokus pada usahanya sebagai penjual pakan.

Saat ditanya mengenai dukungan atau bantuan dari pemerintah, Pak Karmin mengungkapkan bahwa selama ini ia mengandalkan modal sendiri. “Tidak ada bantuan, semua modal sendiri,” ujarnya.

Ke depan, Pak Karmin memiliki harapan untuk mengembangkan usahanya. Jika rezekinya mencukupi, ia ingin membuka cabang baru agar bisa menjangkau lebih banyak pelanggan.

“Kalau punya rezeki, pengen coba buka di tempat lain. Karena pekerjaan ini harus sabar, menunggu pembeli datang,” tuturnya.

Usaha pakan ternak seperti yang dijalankan Pak Karmin menjadi salah satu bagian penting dalam ekosistem peternakan di Blora. Dengan adanya penjual pakan ternak lokal, peternak kecil tetap bisa memperoleh pasokan pakan yang stabil, meskipun menghadapi tantangan seperti wabah penyakit dan perubahan tren peternakan.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending di Berita