Klikjateng, Blora – Di tengah hiruk pikuk Jalan RA Kartini, tepatnya di depan RSIA Annisa Kunden, Kecamatan Blora, ada sosok penjual serabi yang sudah tidak asing bagi warga sekitar. Namanya Mbak Novi, seorang perempuan sederhana yang telah setia menjajakan serabi sejak usia 17 tahun.
“Mulai jualan sejak saya masih sekolah SMA, umur 17 tahun. Sekarang sudah 15 tahun lebih saya jalani usaha ini,” tuturnya saat ditemui pada Minggu, (4/5/25).
Bukan sekadar mencari nafkah, bagi Mbak Novi, serabi adalah warisan leluhur yang harus terus dijaga. Ia merupakan generasi keempat dari keluarganya yang melanjutkan usaha kuliner khas Blora ini. “Serabi itu makanan khas Blora. Usaha ini turun-temurun dari Mbah buyut, Mbah, Ibu, lalu sekarang saya,” jelasnya.

Proses pembuatan serabi miliknya pun masih dilakukan secara tradisional. Adonan dibuat dari campuran tepung beras, tepung ketan, kemiri, santan, kelapa, dan garam. Setelah semua bahan dicampur rata, adonan dibakar di atas tungku, memberikan aroma khas yang menggoda.

Tak hanya menyajikan rasa klasik, Mbak Novi juga berinovasi dalam varian rasa. “Ada rasa kelapa, santan, meses, juga yang pakai sambal pecel. Selain itu, saya juga jual Gemblong Ketan,” katanya.
Untuk bahan-bahan, ia mengandalkan pasokan dari pasar lokal. Namun, fluktuasi harga bahan baku sering menjadi tantangan tersendiri, terutama harga kelapa yang sempat melonjak tajam. “Kemarin kelapa sempat sampai 35 ribu per biji. Sekarang sudah mulai normal, antara 10 sampai 20 ribu. Tapi kalau yang 10 ribu kecil sekali ukurannya,” keluhnya.

Kenaikan harga bahan baku itu memaksa Mbak Novi menyesuaikan harga jual. Saat ini, serabi dibanderol Rp3.500 per buah, sementara Gemblong Ketan dijual Rp6.000. Meski begitu, ia tetap menjaga kualitas rasa. “Rasa masih tetap sama seperti dulu,” ujarnya mantap.
Setiap hari, Mbak Novi mulai berjualan pukul 14.00 WIB hingga dagangannya habis. Tak jarang, para pelanggan sudah menunggu setia di tempat langganan mereka. Konsistensinya berjualan menjadi kunci utama mempertahankan pelanggan. “Yang penting jangan sering libur, nanti pelanggan kecewa. Pokoknya saya jualan terus, selama sehat,” ucapnya.
Ketika ditanya tentang rencana pengembangan usaha, Mbak Novi menyatakan keinginannya untuk membuka tempat usaha yang lebih layak. Namun, keterbatasan biaya kontrakan masih menjadi kendala. “Pengen banget usaha ini berkembang. Tapi masih mikir biaya kontraknya, Mas,” kata dia.
Harapannya sederhana: usaha serabi ini bisa terus bertahan dan berkembang. “Yang penting saya sehat terus, bisa terus jualan. Semoga usaha ini tetap jadi kebanggaan keluarga, karena sudah turun temurun,” tutup Mbak Novi dengan senyum.






