Klikjateng, Rembang – Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta yang tergabung dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN) melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat di Kabupaten Rembang. Sebanyak 47 mahasiswa diterjunkan dan dibagi ke dalam dua kelompok untuk melaksanakan KKN di Kecamatan Pancur dan Kecamatan Gunem.
Salah satu program kerja yang dijalankan mahasiswa KKN UGM di Kecamatan Gunem adalah pendampingan pengolahan sampah organik melalui pembuatan komposter sederhana. Program tersebut diterapkan di Desa Banyuurip dengan melibatkan masyarakat setempat, khususnya kelompok ibu-ibu PKK.
Mahasiswa UGM, Ammar, saat ditemui di Balai Desa Banyuurip, Rabu (4/2/2026), menjelaskan bahwa Desa Banyuurip sejatinya telah memiliki fasilitas pengolahan sampah anorganik. Namun, pengelolaan sampah organik masih menjadi permasalahan karena menimbulkan bau dan belum dimanfaatkan secara optimal.
“Sampah organik selama ini banyak dikeluhkan karena baunya. Dari situ kami berinisiatif membuat komposter sederhana agar sampah organik bisa diolah dan tidak menimbulkan bau,” ujarnya.
Ia menjelaskan, komposter tersebut dibuat dengan memanfaatkan dua ember bekas sehingga biaya pembuatannya relatif murah dan mudah diterapkan oleh masyarakat. Proses pengolahan dilakukan dengan menempatkan sampah kering di bagian bawah ember, kemudian diisi sampah basah di bagian atas.
Sampah di dalam komposter diaduk setiap tiga hari sekali dan ditambahkan bioaktivator, seperti EM4, molase yang bisa diganti dengan gula merah atau gula pasir, serta air bersih untuk mempercepat proses penguraian.
“Dalam waktu sekitar dua minggu hingga satu bulan, sampah organik ini sudah bisa diolah menjadi pupuk cair. Pupuk dipanen melalui kran yang dipasang di bagian bawah ember,” jelas Ammar.
Selain itu, air bekas cucian beras juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan tambahan dalam proses pengolahan sampah organik tersebut.
Pembuatan komposter sampah organik ini dipraktikkan langsung bersama ibu-ibu PKK Desa Banyuurip. Warga tampak antusias mengikuti kegiatan karena metode yang digunakan dinilai sederhana dan bisa diterapkan di lingkungan rumah tangga.
Kepala Bidang Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Rembang, Sumadi, menyampaikan bahwa Pemerintah Kabupaten Rembang menjalin kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi dalam pelaksanaan program KKN.
“Pada tahun 2025, Pemkab Rembang bekerja sama dengan 11 perguruan tinggi. Program pengabdian masyarakat oleh mahasiswa ini mampu membantu masyarakat menggali potensi desa sekaligus menyelesaikan berbagai permasalahan yang ada,” ungkapnya.
Menurut Sumadi, inovasi komposter sampah organik yang diinisiasi mahasiswa KKN UGM di Desa Banyuurip merupakan contoh program yang tepat sasaran. Dengan biaya murah dan teknologi sederhana, inovasi tersebut diharapkan dapat diterapkan secara berkelanjutan oleh masyarakat untuk membantu mengatasi persoalan sampah.
Selain program pengolahan sampah organik, mahasiswa KKN UGM di Kabupaten Rembang juga melaksanakan berbagai program kerja lainnya, di antaranya pembuatan tepung mokaf, mitigasi bencana di sekolah, pembuatan pestisida alami, serta sosialisasi pencegahan perundungan atau anti-bullying.






