Menu

Mode Gelap
Progres Pembangunan KDKMP di Blora Capai 72 Persen, Empat Desa Rampung Motor Tabrak Truk Parkir, Satu Korban Jiwa di Jalan Blora–Randublatung Rapat Konsultasi TP PKK Blora 2026, Targetkan Ekonomi Mandiri hingga Bebas Stunting Penerapan E-Parkir di Pasar Sido Makmur Blora, Pendapatan Melejit 800 Persen‎ Resmikan SPPG Polres Blora 2, Bupati Arief Dorong Jadi Dapur Percontohan Program MBG‎ Lindu Aji Blora Bangkit Setelah Tiga Tahun Vakum, Gelar Muscab dan Reorganisasi

Berita

Happy Salma Gugup Saat Monolog Nyai Ontosoroh di Blora

badge-check


					Happy Salma Gugup Saat Monolog Nyai Ontosoroh di Blora Perbesar

Klikjateng, Blora – Aktris dan produser Happy Salma mengaku gugup saat membawakan monolog Nyai Ontosoroh dalam rangkaian peringatan Seabad Pramoedya Ananta Toer di Pendapa Rumah Dinas Bupati Blora, Jumat (8/2/2025) malam.

Ia bukan merasa canggung karena kursi pendapa yang dipenuhi oleh penonton dari berbagai kalangan, termasuk keluarga Pramoedya, Bupati Blora Arief Rohman, serta istrinya. Namun, baginya, tampil di tanah kelahiran Pramoedya memberikan tekanan tersendiri.

“Biar bagaimanapun ini pertama kali saya mementaskan di Blora, tempat kelahiran Pramoedya yang menciptakan tokoh Nyai Ontosoroh ini. Saya cukup gugup, tapi saya sangat senang sekali,” ujar Happy Salma.

Monolog yang disutradarai oleh Wawan Sofwan ini diadaptasi dari novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Pementasan ini sukses memukau para penonton yang memenuhi pendapa. Dengan latar sederhana—dua kursi kayu, meja kecil dengan koper tua di atasnya, serta iringan musik lirih—Happy Salma menghidupkan kembali kisah Nyai Ontosoroh, seorang perempuan pribumi yang menolak tunduk pada sistem kolonial.

Di akhir pementasan, Happy menutup monolog dengan kalimat ikonik yang menggema di seluruh pendapa:

“Namun kami tidak kalah, sebab kami telah melawan dengan sebaik-baiknya dan sehormat-hormatnya.”

Riuh tepuk tangan pun membahana, mengapresiasi penampilan penuh penghayatan dari Happy Salma.

Kisah Perjuangan Nyai Ontosoroh

Dalam monolognya, Happy Salma membawakan kisah Sanikem, seorang gadis pribumi yang dijual oleh ayahnya kepada pria Belanda bernama Herman Mellema demi jabatan. Sanikem, yang kemudian dikenal sebagai Nyai Ontosoroh, awalnya hanya seorang gadis lugu. Namun, ia mulai belajar membaca, mengelola usaha, hingga menjadi sosok perempuan kuat.

Kehidupan Nyai Ontosoroh semakin sulit ketika hak asuh anaknya, Annelies, dicabut oleh pemerintah kolonial. Pengadilan Belanda tidak mengakui pernikahan pribumi, sehingga Annelies dipaksa berangkat ke Belanda.

Di pementasan ini, Happy Salma berhasil membawa emosi penonton, menggambarkan betapa beratnya perjuangan seorang perempuan di era kolonial.

“Saya butuh waktu sekitar satu bulan untuk kembali mendalami karakter Nyai Ontosoroh setelah terakhir kali memainkannya delapan tahun lalu,” tutur Happy.

Dengan pementasan ini, Happy Salma ingin kembali mengingatkan publik akan pemikiran-pemikiran kritis Pramoedya Ananta Toer serta relevansi perjuangan perempuan di era modern.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending di Berita