Klikjateng, Blora – Hobi memelihara burung perkutut semakin diminati warga Blora, termasuk di Desa Klopoduwur, Dukuhan Badong Kidul, Kecamatan Banjarejo. Para penghobi perkutut di sana bahkan telah membangun gantangan secara gotong royong untuk menyalurkan kecintaan mereka terhadap burung berkicau ini.
Salah satu penghobi perkutut, Masdari, mengungkapkan bahwa pembangunan gantangan ini bertujuan untuk menjaga kerukunan dan menjalin persaudaraan di antara penghobi. “Gantangan ini hasil dari gotong royong, untuk menghindari pikiran-pikiran yang buruk, demi menjaga kerukunan dan menjalin persaudaraan,” ujarnya. Minggu (23/2/25).

Dari Ayam ke Perkutut: Perjalanan Hobi Masdari
Masdari mengaku baru sekitar satu tahun menekuni hobi ini. Sebelumnya, ia lebih tertarik pada ayam, namun kemudian beralih ke burung perkutut karena melihat suasana pertemanan yang lebih baik di komunitas perkutut.
“Dulunya saya hobi ayam, tapi saya menghindari suasana yang kurang menyenangkan. Akhirnya saya pindah ke burung perkutut. Lebih baik kumpul dengan orang-orang yang halus dan penuh silaturahmi,” jelasnya.
Menurutnya, komunitas perkutut memiliki keakraban yang lebih erat. “Saya lihat orang-orang yang berkumpul di komunitas perkutut itu rukunnya bagus, salaman semua, jabatan tangan semua, jadi saya tertarik,” tambahnya.

Perawatan Perkutut dan Rutinitas Lomba
Duwik Purwanto, penghobi perkutut dari Desa Tambakrejo, Kecamatan Tunjungan, Blora, mengatakan bahwa dirinya sudah menekuni hobi ini sejak 2017. Ia lebih memilih perkutut dibanding burung kicauan karena dianggap tidak membosankan.
Dalam hal perawatan, Duwik menyebutkan pentingnya penjemuran burung secara rutin. “Kalau yang sudah gacor, cukup dijemur sekali-kali. Kalau masih bahan, setiap hari satu jam dijemur,” terangnya. Ia juga memiliki racikan pakan khusus untuk meningkatkan kualitas suara burung, yakni campuran Gold Coin, ketan hitam, dan Miltih Millet Putih.
Duwik juga aktif mengikuti lomba perkutut. “Kalau di sini baru tiga kali, tapi kalau rutinitas setiap hari Minggu bisa ngopi bareng sama penghobi perkutut lainnya,” ungkapnya. Ia menjelaskan bahwa dalam lomba, burung diberikan waktu 25 menit dan dinilai berdasarkan jumlah kicauan.
Komunitas Perkutut Blora dan Harapan ke Depan
Duwik tergabung dalam komunitas Parikesit, salah satu perkumpulan penghobi perkutut di Blora. Ia menyebut bahwa komunitas ini lebih berorientasi pada silaturahmi ketimbang bisnis. “Di sini yang penting seduluran dan keguyubrukunan, tidak harus bisnis,” katanya.
Meski demikian, regenerasi penghobi perkutut masih menjadi tantangan. “Sementara ini yang menekuni umumnya sudah berkeluarga,” ujarnya.
Duwik berharap agar hobi ini semakin berkembang di Blora. “Semoga perkutut lokal Blora semakin maju dan dikenal luas, karena di luar sana perkutut lokal Blora sudah terkenal,” pungkasnya.






