Klikjateng, Blora – Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Blora terus memperluas program-program bantuan sosial dengan pendekatan kewirausahaan dalam upaya memberdayakan masyarakat kurang mampu dan kelompok rentan. Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) Blora, Luluk Kusuma Agung Ariadi, mengungkapkan bahwa bantuan sosial kini tidak hanya sebatas distribusi kebutuhan pokok, tetapi juga diarahkan pada pemberian modal usaha.
“Kami mencoba mengubah pola pemberian bantuan sosial dari yang hanya bersifat sementara menjadi sesuatu yang lebih produktif dan jangka panjang. Melalui kerjasama dengan Sentra Magolaras, kami mengarahkan bantuan kepada program kewirausahaan, sehingga masyarakat bisa berdiri sendiri dan tidak selamanya bergantung pada bantuan,” ungkap Luluk dalam sebuah wawancara baru-baru ini.
Program Kewirausahaan untuk Mengatasi Kemiskinan
Menurut Luluk, dalam program kewirausahaan ini, masyarakat diberikan berbagai bentuk bantuan usaha sesuai dengan keinginan dan kebutuhan mereka. Dinsos menyediakan modal dalam bentuk barang, seperti peralatan usaha atau bahan baku. Misalnya, bagi mereka yang ingin membuka toko kelontong, Dinsos menyediakan etalase, kulkas, dan peralatan lain. Sementara bagi yang tertarik dengan usaha kuliner, Dinsos membantu dengan penyediaan meja, panci, dan bahan baku awal seperti kopi atau makanan.
“Harapannya, mereka dapat menjalankan usahanya secara mandiri, sehingga dalam jangka waktu tertentu, mereka bisa keluar dari daftar penerima bantuan. Ini adalah bagian dari strategi kami untuk secara perlahan menekan angka kemiskinan di Kabupaten Blora,” tambahnya.
Dalam pelaksanaannya, Dinsos Blora memberikan pendampingan intensif selama tiga bulan bagi setiap penerima manfaat, terutama kelompok masyarakat rentan seperti difabel, lansia sebatang kara, dan orang terlantar. Contoh nyata dari keberhasilan program ini adalah bantuan yang diberikan kepada 19 penyandang disabilitas di Blora, yang kini menjalankan usaha tambal ban, pijat, hingga ternak ayam.
Bantuan Sosial Lainnya dan Tantangan Anggaran
Selain program kewirausahaan, Dinsos Blora juga tetap menjalankan beberapa program bantuan sosial lainnya, seperti Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT). Ada juga bantuan khusus untuk bencana alam dan bantuan bagi anak yatim yang disalurkan melalui panti asuhan. “Anak-anak yatim kita berikan perhatian khusus dengan penempatan di panti, agar mereka mendapatkan pendidikan dan pelayanan yang lebih baik,” kata Luluk.
Namun, tantangan yang dihadapi Dinsos Blora dalam menjalankan program-program ini cukup berat, terutama dari segi anggaran. “Anggaran yang kami miliki terbatas, sehingga kami harus cermat dalam menentukan skala prioritas. Misalnya, jika di tengah tahun ada tambahan penerima manfaat, kita harus menyesuaikan dengan anggaran yang ada hingga Desember, atau mengusulkan bantuan untuk dilanjutkan pada tahun berikutnya,” jelasnya.
Luluk juga menyebutkan bahwa Dinsos Blora aktif menjalin kerjasama dengan berbagai lembaga sosial dan filantropi, seperti Lazizmu, Laziznu, Yayasan Setara, serta beberapa sentra pelatihan di Jawa Tengah seperti Sentra Magolaras di Pati dan Sentra Suharso. “Kerjasama ini sangat penting, karena dengan bantuan dari lembaga-lembaga tersebut, kami bisa menyalurkan bantuan lebih efektif. Bahkan, untuk mereka yang ingin mendapatkan keahlian khusus, kami bekerja sama dengan balai pelatihan di Yogyakarta dan Sukoharjo,” ujarnya.
Proses Pengajuan Bantuan dan Usaha Pemberdayaan
Bagi masyarakat yang ingin mengakses bantuan ini, proses pengajuannya cukup sederhana. Mereka bisa mengajukan permohonan melalui kepala desa, kepala kelurahan, atau camat setempat. “Tidak harus proposal yang rumit, cukup dengan surat pengajuan yang menjelaskan usaha apa yang diinginkan, kami akan menindaklanjutinya. Namun, kami mendorong agar bantuan yang kami berikan bisa produktif dan berkelanjutan, agar penerima manfaat tidak hanya bergantung pada bantuan,” jelas Luluk.
Dalam memberikan bantuan ini, Dinsos Blora juga memperhatikan potensi dan minat dari setiap individu penerima. Luluk mencontohkan bahwa jika ada yang ingin membuka warung kopi, maka mereka akan diberikan perlengkapan seperti cangkir, meja, hingga kopi dan peralatan lainnya. Setelah itu, selama tiga bulan, penerima manfaat akan didampingi oleh tim dari Dinsos agar usahanya berjalan dengan lancar.
Upaya Berkelanjutan untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat
Luluk menekankan bahwa program ini adalah upaya berkelanjutan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Blora. Dengan bantuan kewirausahaan, diharapkan penerima manfaat bisa mandiri dan tidak lagi masuk dalam kategori miskin. “Program ini bertujuan agar masyarakat bisa mandiri secara ekonomi. Kita tidak ingin hanya memberikan bantuan yang bersifat sementara, tetapi bantuan yang bisa memberikan dampak jangka panjang bagi kesejahteraan mereka,” tutupnya.
Dengan berbagai upaya yang dilakukan Dinsos Blora, diharapkan ke depannya jumlah masyarakat miskin di Kabupaten Blora bisa terus berkurang, dan masyarakat rentan dapat hidup lebih sejahtera serta mandiri.
(Angga)






