Menu ✖

Mode Gelap
Bertahan 10 Tahun Berjualan Keliling, Bu Sami Jajakan Nasi Jagung hingga Kerupuk Samier di Blora Kapolres Blora Pimpin Sertijab PJU dan Kapolsek, Ini Daftar Pejabat yang Berganti Kebakaran Lahan di Japah Blora, Polisi Pastikan Api Padam dan Imbau Warga Waspada Lepas 351 Personel ke PORPROV Jateng 2026, Blora Bidik Pertahankan Peringkat Keenam Bupati Arief Gandeng Pimpinan DPRD ke Jakarta, Tancap Gas Sekolah Rakyat Blora 535 KK Terdampak Bendung Karangnongko, Bupati Blora Perjuangkan Kepastian Relokasi

Berita

Bertahan 10 Tahun Berjualan Keliling, Bu Sami Jajakan Nasi Jagung hingga Kerupuk Samier di Blora

badge-check


					Bertahan 10 Tahun Berjualan Keliling, Bu Sami Jajakan Nasi Jagung hingga Kerupuk Samier di Blora Perbesar

Klikjateng, BLORA – Di tengah teriknya matahari, Bu Sami tetap mengayuh sepeda sambil menjajakan aneka makanan tradisional kepada warga. Perempuan berusia 50 tahun asal Laban, Kelurahan Sonorejo, Kabupaten Blora, itu telah bertahun-tahun mengandalkan usaha dagangan keliling untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarganya.

‎

‎Beragam makanan tradisional dibawanya, mulai dari nasi jagung, sambal goreng ketela, kerupuk samier, kerupuk bakar, kacang rebus, kacang oven, jagung rebus hingga keripik pisang dan jambu air. Dagangan tersebut ditawarkan kepada warga di sejumlah titik di wilayah Kecamatan Blora.

‎

‎Bu Sami mengaku telah menekuni usaha berjualan sejak anaknya masih duduk di bangku kelas IV sekolah dasar. Kini, anak semata wayangnya telah berusia 19 tahun.

‎

‎“Wis suwe, wiwit anakku kelas papat SD. Saiki umure wis 19 tahun,” tuturnya saat ditemui di sela-sela berjualan di Alun-alun Blora. Kamis (22/10/2026).

‎

‎Setiap hari, Bu Sami berangkat sekitar pukul 10.00 hingga 11.00 WIB. Dengan mengayuh sepeda, ia berkeliling menawarkan dagangannya. Sejumlah lokasi yang biasa didatangi antara lain kawasan GOR, Alun-alun Blora, hingga sekitar Lapangan Kridasono.

‎

‎Lokasi berjualan terkadang berpindah-pindah menyesuaikan kondisi dan keramaian pembeli. Jika dagangan belum habis, ia berusaha melanjutkan berjualan ke lokasi lain.

‎

‎Menjual Makanan Tradisional dengan Harga Terjangkau

‎

‎Salah satu hal yang menarik dari dagangan Bu Sami adalah harga yang relatif terjangkau. Nasi jagung dijual sekitar Rp1.000 per bungkus, sedangkan jagung rebus dibanderol Rp2.000 per buah.

‎

‎Kerupuk samier dijual Rp3.000, meski terkadang ia memberikan harga Rp2.000 apabila ada pembeli yang menawar. Sementara itu, jambu air dijual sekitar Rp15.000 untuk setengah kilogram, sesuai keterangannya saat ditemui.

‎

‎Bu Sami juga menjual kacang rebus, kacang oven, keripik pisang, dan sambal goreng tela. Jenis dagangan yang dibawa menyesuaikan ketersediaan bahan dan barang yang bisa ia jual hari itu.

‎

‎Untuk kerupuk samier, Bu Sami tidak menggorengnya sendiri dari bahan mentah. Ia membeli bahan kerupuk mentah, kemudian membayar jasa penggorengan sekitar Rp6.000 per kilogram.

‎

‎Meski barang yang dijual beragam, tidak semua dagangan selalu habis dalam sehari. Ada kalanya masih tersisa ketika ia menyelesaikan aktivitas berkeliling.

‎

‎Penghasilan Tak Menentu, Tetap Berusaha Membantu Keluarga

‎

‎Di balik aktivitas berjualan tersebut, Bu Sami harus menghadapi penghasilan yang tidak selalu sama setiap hari.

‎

‎Ia menyebut modal dagangan yang dibawa berkisar Rp150.000 hingga Rp200.000. Adapun hasil penjualan bisa mencapai sekitar Rp300.000 sampai Rp350.000 ketika dagangan ramai dan banyak yang terjual.

‎

‎Namun, angka tersebut merupakan hasil penjualan yang perlu dibedakan dari keuntungan bersih. Sebab, masih ada modal barang dagangan dan biaya lain yang harus diperhitungkan. Ketika dagangan tidak habis, pendapatannya pun bisa lebih sedikit.

‎

‎Saat kondisi sepi, Bu Sami menyebut hasil penjualan dapat berada di kisaran Rp250.000. Karena itu, penghasilan yang benar-benar tersisa untuk kebutuhan rumah tangga tidak selalu sama.

‎

‎Suami Bu Sami sendiri bekerja serabutan sebagai buruh tani. Pekerjaannya menyesuaikan panggilan yang tersedia, mulai dari membantu membersihkan lahan hingga menebang tebu ketika ada pekerjaan.

‎

‎Ketika tidak ada pekerjaan, penghasilan keluarga menjadi lebih terbatas. Kondisi tersebut membuat usaha berjualan keliling menjadi salah satu ikhtiar keluarga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

‎

‎Bagi Bu Sami, berjualan bukan sekadar menawarkan makanan kepada pembeli. Usaha yang telah dijalaninya selama bertahun-tahun itu menjadi bagian dari perjuangan keluarga untuk terus bertahan.

‎

‎Melalui dagangan sederhana seperti nasi jagung, sambal goreng tela, jagung rebus, dan kerupuk samier, Bu Sami terus berusaha mencari rezeki dengan cara yang ia tekuni selama ini.

‎

‎Kisah Bu Sami menjadi gambaran perjuangan pedagang kecil yang tetap berusaha menghidupi keluarga melalui usaha mandiri, meski harus menghadapi penghasilan yang tidak menentu dan berkeliling dari satu tempat ke tempat lain.

‎

‎Bagi warga Blora yang ingin membeli dagangannya, Bu Sami biasa berkeliling di kawasan GOR, Alun-alun Blora, dan sekitar Lapangan Kridasono. Membeli dagangan pedagang kecil seperti Bu Sami menjadi salah satu cara sederhana untuk mendukung usaha masyarakat lokal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending di Berita