Menu

Mode Gelap
Lindu Aji Blora Bangkit Setelah Tiga Tahun Vakum, Gelar Muscab dan Reorganisasi Kapolri Resmikan 19 Jembatan Merah Putih Presisi di Jawa Tengah, Perkuat Akses dan Kedekatan Polri–Masyarakat Aksi Heroik Kabid Humas Polda Jateng Dorong Mobil Mogok dari Perlintasan Kereta Api Polres Blora Raih Penghargaan TRCPPA atas Respon Cepat Tangani Kasus Perempuan dan Anak Bupati Arief Rohman Hadiri Pemilihan Pengurus IMPARA UNNES, Tegaskan Dukungan Pemkab Blora untuk Mahasiswa Pesona Air Terjun Kalimancur, Surga Wisata Alam di Lereng Pegunungan Lasem

Berita

Produksi Pertanian Rembang 2025 Naik 6,84 Persen, Padi Surplus hingga 30 Bulan

badge-check


					Produksi Pertanian Rembang 2025 Naik 6,84 Persen, Padi Surplus hingga 30 Bulan Perbesar

Klikjateng, Rembang – Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Rembang mencatat kinerja positif sektor pertanian dan peternakan sepanjang tahun 2025. Berdasarkan rekapitulasi data produksi berbagai komoditas strategis, total produksi pada 2025 mengalami peningkatan sebesar 6,84 persen dibandingkan tahun 2024.

Secara akumulatif, total produksi komoditas pertanian dan peternakan pada 2025 mencapai 8,57 juta, meningkat dari 8,03 juta pada tahun sebelumnya. Kenaikan tersebut mencerminkan keberhasilan upaya penguatan sektor pertanian sebagai salah satu penopang utama perekonomian daerah.

Pada subsektor tanaman pangan, produksi padi mengalami peningkatan signifikan, dari 199.331 ton pada 2024 menjadi 295.825 ton pada 2025. Produksi jagung juga menunjukkan tren positif, meningkat dari 188.176 ton menjadi 191.432 ton. Dari sisi produktivitas, padi tercatat mencapai 6,6 ton per hektare, sementara jagung sebesar 7,6 ton per hektare.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Dintanpan) Kabupaten Rembang, Agus Iwan, menyebutkan capaian tersebut menempatkan Rembang dalam kondisi surplus pangan yang cukup kuat.

“Rembang mencatatkan kenaikan yang signifikan. Produksi padi tahun 2025 meningkat lebih dari 50 persen dibandingkan 2024, dan kita surplus hampir untuk 30 bulan produksi beras,” ujar Agus Iwan usai mengikuti zoom meeting Panen Raya dan Pengumuman Swasembada Pangan bersama Presiden RI di Ruang Rapat Bupati Rembang, Rabu (7/1/2026).

Kinerja positif juga ditunjukkan komoditas hortikultura. Produksi bawang merah meningkat dari 9.815 kwintal pada 2024 menjadi 11.139,60 kwintal pada 2025, dengan produktivitas naik dari 90,46 kwintal per hektare menjadi 94,4 kwintal per hektare. Sementara itu, produksi cabai keriting dan cabai rawit masing-masing mencapai 8.868,91 kwintal dan 14.828 kwintal, disertai peningkatan produktivitas.

Pada subsektor perkebunan, produksi tebu kristal pada 2025 tercatat sebesar 32.757 ton dan tebu tumbu 12.170 ton. Meski terjadi sedikit penurunan produksi dibandingkan tahun sebelumnya, tingkat produktivitas kedua komoditas tersebut relatif stabil. Produksi tembakau juga tetap terjaga dengan capaian 15.448 ton.

Agus Iwan menjelaskan, peningkatan produksi pertanian di Kabupaten Rembang didorong oleh sejumlah faktor strategis, antara lain ketersediaan sarana produksi, harga hasil panen yang relatif baik, serta dukungan kondisi alam.

“Salah satu faktor utama adalah tersedianya pupuk dalam jumlah cukup dengan harga terjangkau. Selain itu, harga hasil panen juga relatif baik, sehingga petani semakin antusias untuk menanam,” ungkapnya.

Dukungan pemerintah daerah juga diwujudkan melalui penyediaan infrastruktur pertanian, seperti irigasi perpompaan, perbaikan jaringan irigasi, serta bantuan sumur pertanian di sejumlah wilayah. Ditambah lagi, kondisi cuaca sepanjang 2025 dinilai cukup mendukung aktivitas pertanian di Kabupaten Rembang.

Sementara itu, subsektor peternakan turut menunjukkan tren pertumbuhan populasi. Populasi sapi meningkat dari 108.110 ekor menjadi 110.285 ekor, kambing dari 81.330 ekor menjadi 83.293 ekor, serta domba dari 12.860 ekor menjadi 13.266 ekor. Populasi ayam ras pedaging naik signifikan hingga mencapai 7,17 juta ekor, sedangkan ayam buras tercatat sebanyak 375.865 ekor.

Ke depan, Pemerintah Kabupaten Rembang menargetkan stabilitas produksi pertanian tetap terjaga agar ketahanan dan swasembada pangan dapat berkelanjutan.

“Tugas kami ke depan adalah menjaga agar produksi ini tidak mengalami fluktuasi yang terlalu tinggi dibandingkan capaian tahun 2025, sehingga swasembada pangan tetap terjaga,” pungkas Agus Iwan.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending di Berita