Menu

Mode Gelap
Pemuda di Blora Tusuk Lawannya Usai Cekcok Dipicu Saling Ejek Polres Blora Gelar Gerakan Pangan Murah, Warga Serbu Beras dan Minyak Goreng Murah di Bulan Ramadan Rumah Kayu Milik Petani di Jiken Blora Ludes Terbakar, Kerugian Capai Rp53 Juta Kuasa Hukum Cimut Minta Polisi Usut Tuntas Kasus Pengeroyokan di Ngawen Blora Kejari Rembang Gelar Pasar Murah Jelang Ramadan, Ratusan Paket Sembako Ludes dalam Sejam ‎ Warga Nglobo Hadang Truk Rig, Jalan Rusak dan Insiden Terserempet Picu Protes

Berita

BPBD Jawa Tengah Salurkan 6,3 Juta Liter Air Bersih untuk Atasi Kekeringan

badge-check


					BPBD Jawa Tengah Salurkan 6,3 Juta Liter Air Bersih untuk Atasi Kekeringan Perbesar

Klikjateng, Semarang – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah telah menetapkan status siaga darurat kekeringan di 28 kabupaten/kota yang tersebar di wilayah provinsi ini. Kepala Bidang Penanganan Kedaruratan Bencana BPBD Jawa Tengah, Muhammad Chomsul, mengungkapkan bahwa sejumlah daerah mengalami dampak kekeringan mulai 24 Mei hingga 16 Agustus 2024.

Beberapa daerah yang terdampak parah di antaranya adalah Cilacap dengan 17 desa yang terkena dampak, Pati 16 desa, Banyumas 15 desa, Purworejo 15 desa, Blora 12 desa, Rembang 10 desa, serta Sragen dan Klaten masing-masing 8 desa. “Sebanyak 28 kabupaten/kota sudah menetapkan status siaga darurat kekeringan 2024,” ujar Chomsul melalui pesan singkat, Selasa (20/8/2024).

Ke-28 kabupaten/kota tersebut meliputi Cilacap, Temanggung, Grobogan, Klaten, Batang, Karanganyar, Rembang, Banyumas, Boyolali, Demak, Sragen, Wonogiri, Blora, Sukoharjo, Pati, Kudus, Pemalang, Purbalingga, Brebes, Kota Salatiga, Kebumen, Purworejo, Semarang, Pekalongan, Kota Semarang, Tegal, Jepara, dan Magelang.

Untuk menangani kondisi kekeringan yang semakin parah, BPBD Jawa Tengah telah mendistribusikan 6.346.000 liter air bersih ke daerah-daerah terdampak. Kabupaten Klaten menjadi penerima bantuan air terbesar, yakni sebanyak 2 juta liter. “Sebanyak 6.346.000 liter air bersih sudah didistribusikan oleh BPBD Jateng. Kabupaten Klaten mendapatkan distribusi air terbanyak, 2 juta liter,” jelas Chomsul.

Selain menghadapi kekeringan, BPBD Jawa Tengah juga mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di 19 kabupaten/kota. Kabupaten Rembang menjadi wilayah dengan penetapan status siaga darurat bencana karhutla terlama, yakni hingga 10 Desember 2024. Sementara itu, Kabupaten Kudus tercatat sebagai daerah dengan jumlah kejadian karhutla terbanyak, dengan lima kejadian, diikuti oleh Demak dan Banyumas dengan masing-masing tiga kejadian.

Chomsul menyatakan bahwa meskipun terjadi beberapa kebakaran hutan dan lahan, BPBD Jawa Tengah berhasil menanganinya dengan cepat. “Alhamdulillah kebakaran tersebut bisa tertangani secara cepat, tidak seperti tahun lalu, yang membutuhkan waktu berhari-hari,” ungkapnya.

Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus dan akan berakhir pada September 2024. BPBD Jawa Tengah juga mengantisipasi kekeringan dengan menyiapkan sumber air di waduk-waduk, mengingat dampak El Nino yang luar biasa telah menyebabkan penurunan sumber air di waduk dan embung. “Kita antisipasi kekeringan dengan persiapan air di waduk-waduk, karena memang kemarin dampak El Nino itu luar biasa. Sumber air waduk, embung, itu banyak mengalami penurunan,” tandasnya.

 

(SR)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending di Berita