Menu

Mode Gelap
Lindu Aji Blora Bangkit Setelah Tiga Tahun Vakum, Gelar Muscab dan Reorganisasi Kapolri Resmikan 19 Jembatan Merah Putih Presisi di Jawa Tengah, Perkuat Akses dan Kedekatan Polri–Masyarakat Aksi Heroik Kabid Humas Polda Jateng Dorong Mobil Mogok dari Perlintasan Kereta Api Polres Blora Raih Penghargaan TRCPPA atas Respon Cepat Tangani Kasus Perempuan dan Anak Bupati Arief Rohman Hadiri Pemilihan Pengurus IMPARA UNNES, Tegaskan Dukungan Pemkab Blora untuk Mahasiswa Pesona Air Terjun Kalimancur, Surga Wisata Alam di Lereng Pegunungan Lasem

Berita

Angka Kematian Ibu dan Anak di Rembang Turun Signifikan, 2025 Berpotensi Catat Rekor Terendah

badge-check


					Angka Kematian Ibu dan Anak di Rembang Turun Signifikan, 2025 Berpotensi Catat Rekor Terendah Perbesar

Klikjateng, Rembang — Pemerintah Kabupaten Rembang mencatat capaian positif dalam upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat sepanjang tahun 2025. Hingga pertengahan Desember, angka kematian ibu, bayi, dan balita menunjukkan tren penurunan signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang, hingga pertengahan Desember 2025 tercatat lima kasus kematian ibu, 94 kasus kematian bayi, dan 118 kasus kematian balita. Capaian tersebut menjadi indikator keberhasilan kerja kolaboratif lintas sektor dalam memperkuat layanan kesehatan, khususnya kesehatan ibu dan anak.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang, dr. Ali Syofi’i, menyampaikan bahwa apabila hingga akhir tahun tidak terjadi penambahan kasus kematian ibu, maka Kabupaten Rembang berpotensi mencatat angka kematian ibu terendah sepanjang sejarah.

“Kalau kematian ibu ini bisa bertahan di angka lima sampai nanti 31 Desember jam 24.00, insyaallah ini menjadi rekor kematian terendah sepanjang sejarah Kabupaten Rembang,” ujarnya, Kamis (18/12/2025).

Ia menjelaskan, dalam lima tahun terakhir angka kematian ibu di Kabupaten Rembang berhasil ditekan secara bertahap. Dari sebelumnya berada di kisaran 13 hingga 14 kasus per tahun, kini turun signifikan menjadi lima kasus pada 2025. Tren positif ini, kata dia, harus terus dijaga dengan kewaspadaan dan upaya maksimal hingga akhir tahun.

Sementara itu, angka kematian bayi hingga pertengahan Desember 2025 tercatat sebanyak 94 kasus. Jumlah tersebut mengalami penurunan cukup signifikan dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 125 kasus, serta 124 kasus pada tahun 2023.

Kabar baiknya, sepanjang Desember 2025 tidak tercatat satu pun kasus kematian bayi. Kondisi ini mencerminkan meningkatnya efektivitas pengawasan serta pelayanan kesehatan ibu dan anak di Kabupaten Rembang.

dr. Ali mengungkapkan bahwa tingginya angka kematian bayi pada awal tahun menjadi bahan evaluasi penting bagi jajaran tenaga kesehatan. Pada Januari 2025 tercatat 15 kasus kematian bayi, disusul Februari sebanyak 14 kasus.

“Di 2025 itu kematiannya banyak di awal-awal tahun. Begitu masuk Januari langsung 15 kematian, Februari 14 dan seterusnya. Ini angka tingginya di awal. Tapi alhamdulillah, kita tersadar dan kemudian merapatkan diri, tiada hari tanpa TELEPONI,” ungkapnya.

Melalui penguatan koordinasi dan komunikasi lintas tenaga kesehatan, Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang mengintensifkan program Temokno, Laporno, Openi (TELPONI). Program ini mendorong komunikasi aktif, khususnya di tingkat bidan desa, untuk memantau kondisi ibu hamil, ibu nifas, serta bayi secara berkelanjutan.

“Sehingga alhamdulillah kita bisa berhasil mempertahankan dan menekan angka kematian bayi,” imbuhnya.

Adapun angka kematian balita hingga pertengahan Desember 2025 tercatat sebanyak 118 kasus. Angka tersebut menurun dibandingkan tahun 2023 yang mencapai 145 kasus dan tahun 2024 sebanyak 142 kasus. Penurunan ini turut dipengaruhi oleh semakin terkendalinya angka kematian bayi.

Selain itu, pengalaman selama masa pandemi COVID-19 juga menjadi pembelajaran berharga. Meningkatnya perhatian keluarga terhadap anak serta berkurangnya mobilitas masyarakat dinilai turut berkontribusi dalam menekan angka kematian balita.

“Anak diperhatikan dengan baik, perhatiannya semua tercurah ke sana. Kemudian transmisi penyakit berkurang karena banyak yang tinggal di rumah, sehingga penularan penyakit menurun dan angka kematian balita ikut turun,” pungkasnya.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending di Berita