Menu

Mode Gelap
Lindu Aji Blora Bangkit Setelah Tiga Tahun Vakum, Gelar Muscab dan Reorganisasi Kapolri Resmikan 19 Jembatan Merah Putih Presisi di Jawa Tengah, Perkuat Akses dan Kedekatan Polri–Masyarakat Aksi Heroik Kabid Humas Polda Jateng Dorong Mobil Mogok dari Perlintasan Kereta Api Polres Blora Raih Penghargaan TRCPPA atas Respon Cepat Tangani Kasus Perempuan dan Anak Bupati Arief Rohman Hadiri Pemilihan Pengurus IMPARA UNNES, Tegaskan Dukungan Pemkab Blora untuk Mahasiswa Pesona Air Terjun Kalimancur, Surga Wisata Alam di Lereng Pegunungan Lasem

Berita

Opor Jingkrak Pak Noli: Cita Rasa Pedas Khas Blora yang Bikin Pembeli ‘Lompat-Lompat’

badge-check


					Opor Jingkrak Pak Noli: Cita Rasa Pedas Khas Blora yang Bikin Pembeli ‘Lompat-Lompat’ Perbesar

Klikjateng, Blora – Di tengah keragaman kuliner Blora, ada satu menu yang mencuri perhatian karena nama dan rasanya yang tak biasa: Opor Jingkrak. Kuliner ini tidak hanya memanjakan lidah, tetapi juga menyimpan cerita inspiratif dari pasangan suami istri, Suparno (63) yang akrab disapa Pak Noli, dan istrinya Siti Satya (58).

Pasangan ini mulai berjualan opor jingkrak sejak tahun 2019, tepatnya saat masa pandemi Covid-19 melanda. “Awalnya itu coba-coba. Saya yang mencicipi dulu sebelum dijual. Kalau belum cocok, ya tidak boleh dijual,” cerita Pak Noli yang mengaku bertindak sebagai ‘quisi’ atau penguji rasa sebelum dipasarkan. “Misalnya kencurnya terlalu banyak, besoknya dibikin ulang. Kalau saya sudah bilang ‘oke’, baru dijual. Ternyata lidah saya sama dengan lidah banyak orang,” tambahnya sambil tersenyum.

Asal-usul Nama ‘Jingkrak’

Nama “opor jingkrak” muncul dari reaksi pelanggan pertama yang mencicipi racikan opor buatan istri Pak Noli. “Pedasnya itu luar biasa, sampai orang yang makan jadi jingkrak-jingkrak,” katanya sambil tertawa. Meski akhirnya tingkat pedasnya dikurangi atas permintaan pelanggan agar anak-anak juga bisa ikut makan, nama “opor jingkrak” tetap dipertahankan. “Sekarang pedasnya masih di atas rata-rata, tapi tidak sepedas dulu,” ujarnya.

Resep Khas dan Proses Masak

Opor jingkrak merupakan hasil kreasi mandiri dari Ibu Siti Satya. “Ini bukan resep turun-temurun. Saya yang masak, suami yang mencicipi. Semua bumbu dapur masuk, kecuali kunci. Itu saja yang tidak kami pakai,” jelasnya. Untuk menjaga rasa yang khas dan gurih, mereka menggunakan ayam kampung asli yang sudah tua. Proses memasaknya membutuhkan waktu sekitar dua jam.

“Tidak ada bumbu rahasia atau teknik khusus, kami hanya gunakan bumbu dapur yang biasa, tapi racikannya pas,” lanjut Ibu Siti. Untuk cabai, mereka menggunakan cabai setan agar rasa pedasnya benar-benar terasa. Namun tingkat kepedasan bisa disesuaikan jika ada permintaan khusus dari pelanggan.

Modal Kecil, Untung Menggoda

Dengan modal awal sekitar Rp 1 juta lebih, usaha opor jingkrak kini bisa menghasilkan keuntungan antara Rp 700 ribu hingga Rp 1,5 juta per hari, tergantung jumlah pesanan. “Kadang sepi, kadang ramai. Namanya jualan ya begitu. Tapi alhamdulillah, hasilnya lumayan,” kata Ibu Siti.

Dalam sehari, mereka bisa mengolah hingga 7 ekor ayam. Namun saat momen ramai seperti Lebaran, jumlah itu bisa melonjak hingga 40 ekor per hari. Harga yang ditawarkan pun sangat terjangkau:

Satu porsi daging ayam: Rp 20.000

Balungan: Rp 17.000

Satu ekor ayam dibelah empat: Rp 28.000

Pelanggan Lintas Kota, Pengiriman Hingga Jakarta

Tak hanya warga Blora, pelanggan opor jingkrak tersebar dari berbagai daerah, seperti Ngawen, Cepu, Jiken, hingga Rembang. Bahkan, mereka pernah melayani pesanan dari Jakarta dan Bandung untuk acara-acara keluarga. “Kalau ada pesanan luar kota, kami freezer dulu, lalu kirim dalam kotak,” jelas ibu Siti Setya.

Selain itu, layanan online juga mereka sediakan melalui GrabFood. “Banyak pelanggan dari rumah sakit dan kantor, seperti RSUD, RS PKU, RS Permata, dan kantor BRI. Mereka pesan lewat Grab,” tambahnya.

Dua Lokasi Strategis, Buka Setiap Hari

Usaha opor jingkrak kini memiliki dua lokasi. Cabang pertama berada di Jenar, buka pukul 10.00–16.00 WIB. Sementara cabang utama berada di kawasan Kridosono, tepat di depan Perpustakaan Daerah Blora, yang buka mulai pukul 16.00 hingga 21.00 WIB.

“Kami buka dua shift, supaya pelanggan yang siang maupun malam tetap bisa menikmati opor jingkrak,” ungkap Siti.

Pernah Diliput Televisi Nasional

Popularitas opor jingkrak tak hanya dikenal secara lokal. Pada tahun 2023, program kuliner Makan Receh dari Trans7 datang langsung meliput usaha ini. “Dari Jakarta dan Surabaya juga pernah ke sini. Itu membanggakan sekali buat kami,” ucap Ibu Siti dengan bangga.

Harapan dan Rencana ke Depan

Saat ditanya tentang rencana pengembangan usaha, Pak Noli menyebut akan mempertimbangkan membuka cabang di Rembang jika sang anak sudah kembali ke Blora. “Kalau nanti anak saya balik ke Blora, mungkin bisa buka cabang di sana,” katanya.

Meski begitu, mereka tetap menjalankan usaha dengan penuh syukur dan tanpa tekanan. “Tantangan? Tidak ada. Yang penting bersyukur. Kalau capek ya istirahat. Tidak usah sepaneng. Kita sudah terbiasa,” ucap ibu Siti.

Pasangan ini pun berharap opor jingkrak bisa terus eksis dan diteruskan oleh anak cucu mereka. “Semoga usaha ini lancar terus, berjalan panjang, sampai nanti anak cucu saya bisa melanjutkan,” tutupnya.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending di Berita