Klikjateng, Blora – Di balik keramaian malam di sekitar Lapangan Kridosono Blora, ada sosok perempuan tangguh yang setahun terakhir ini setia melayani pelanggan dengan beragam menu khas angkringan. Dialah Riris Yulianti, pengusaha angkringan yang kini mulai dikenal di kalangan pecinta kuliner Blora, khususnya para pengunjung Lapangan Kridosono.
Saat ditemui, Riris menceritakan awal mula dirinya memulai usaha angkringan tersebut. “Baru satu tahunan ini saya mulai jualan di sini, dan ini tempat pertama saya. Tidak pernah pindah-pindah,” ujar Riris.
Riris mengaku dorongan untuk membuka usaha sendiri datang dari keinginannya untuk lebih mandiri. “Kan memang pengen usaha sendiri, dulunya ikut orang. Pengen lebih maju aja,” ucapnya penuh semangat.
Menu Variatif dan Cita Rasa Andalan
Angkringan milik Riris menawarkan aneka menu yang cukup lengkap, mulai dari penyetan, seblak, sate-satean, sundukan, nasi kucing, nasi bakar, hingga jajanan ringan seperti ciki-cikian. Namun, dari sekian banyak menu, seblak menjadi andalan yang paling diminati para pembeli.

“Seblak itu paling favorit di sini, rasanya beda, harganya juga murah meriah. Dari lima ribu rupiah sudah bisa makan. Kalau anak-anak kecil yang tidak suka pedas, tiga ribu juga bisa. Tergantung ngambilnya mas,” jelasnya.
Menurut Riris, keunikan dari angkringannya terletak pada inovasi menu yang terus berkembang. “Dulu kita cuma jualan angkringan biasa. Tapi kan kita belum punya pelanggan tetap. Akhirnya kita coba tambah menu baru, biar beda dari yang lain,” tuturnya.
Pelanggan Setia dan Suasana Ramai
Setiap malam, angkringan Riris dipadati berbagai kalangan pelanggan. “Biasanya anak-anak muda banyak, keluarga juga sering, terutama SPG, pegawai, MD, orang-orang Luwes juga banyak yang langganan. Alhamdulillah rame,” katanya.

Namun, ia mengaku belakangan ini pendapatan sedikit menurun. “Mungkin karena banyak acara Sedekah Bumi, jadi agak sepi,” ungkapnya.
Modal Kecil, Pendapatan Menjanjikan
Dengan modal awal sekitar Rp700 ribu untuk sekali belanja kebutuhan harian, seperti bahan makanan, minuman, dan frozen food, Riris bisa memperoleh pendapatan yang cukup menjanjikan.
“Sehari bisa dapat 1,5 juta rupiah kotor. Kalau sepi, ya sekitar 1 juta. Malam Minggu biasanya bersih bisa sampai 1 juta, tapi kalau hari biasa bersihnya sekitar 300-400 ribuan,” terangnya.
Tantangan di Lapangan
Meski sudah punya pelanggan tetap dan penghasilan harian, bukan berarti usaha Riris tanpa hambatan. Cuaca menjadi tantangan paling besar. “Kalau pas hujan, ya sepi. Tapi tetap ikhtiar saja,” katanya.
Biaya Operasional dalam Satu Bulan
Terkait kebersihan dan keamanan lokasi, Riris mengatakan selama ini tidak ada kendala dengan petugas. “Di sini ada petugas kebersihan, biasa bayar dua ribu rupiah per malam. Tapi kalau hujan, mereka tidak narik, kasihan,” jelasnya.
Untuk kebutuhan listrik, Riris mengikuti sistem iuran dari paguyuban pedagang. “Biasanya bayar listrik ke ketua paguyuban 50 ribu. Sewa Gerobak dan tempat berjualan, seperti kompor, peralatan dagang, itu 800 ribu perbulan, Riris menyewa tempat beserta perlengkapan seperti gerobak dan kompor dari temannya, Mas Didit dulunya juga berjualan di lokasi yang sama, namun kini membuka bengkel. Ia juga masih memiliki angkringan lain di sisi timur Kridosono yang dikelola sepupu Riris. jadi total operasional dalam 1 bulan sekitar 910 ribu,” ucapnya.
Pelanggan Jadi Saudara
Dari pengalamannya berjualan, Riris merasa usaha ini memberinya lebih dari sekadar uang. “Yang paling menyenangkan itu pelanggan jadi saudara. Banyak teman baru, banyak saudara,” katanya dengan senyum hangat.
Harapan untuk UMKM dan Pemerintah
Sebagai pelaku UMKM, Riris berharap usaha kuliner di Blora, khususnya angkringan, bisa terus berkembang. “Semoga UMKM makin maju, makin banyak kuliner menarik di Blora,” katanya.
Namun, ia juga menitipkan pesan kepada pemerintah daerah, khususnya terkait fasilitas dasar. “Kamar mandi di sini kurang bersih, air juga sering nggak ada kalau malam. Kadang ngambil airnya sampai ke Blok T,” keluhnya.

Pesan untuk Anak Muda
Untuk anak muda yang ingin memulai usaha kecil, Riris memberikan pesan penuh motivasi. “Mencoba dulu tidak apa-apa. Daripada takut-takut, lebih baik mulai saja. Nanti hasilnya akan datang. Yang penting jangan takut berusaha,” ujarnya.
Ekspansi Usaha dan Dukungan Keluarga
Menariknya, Riris sudah mulai ekspansi dengan membuka cabang di Embung Rowo Karangjati, tepatnya di rumah joglo bagian tengah sebelah timur. “Di sana dikelola sama kakak saya,” ujarnya.
Dalam menjalankan usahanya di Kridosono, Riris dibantu oleh keponakannya yang masih duduk di bangku kelas 2 SMA Negeri 2 Blora. “Namanya Caca, bantuin saya jualan,” kata Riris.
Saat ditanya kenapa mau membantu kakaknya, Caca menjawab, “Supaya dapat pengalaman, jadi nanti kalau sudah kerja tidak kaku.”
Dari semangat dan konsistensinya, Riris Yulianti menunjukkan bahwa usaha kecil seperti angkringan bisa berkembang dan memberikan dampak positif, baik secara ekonomi maupun sosial, bagi pelakunya dan lingkungan sekitar.






