Klikjateng, Semarang – Menjelang Idulfitri 2025 dan menghadapi panen raya, pemerintah pusat dan daerah menggelar Rapat Koordinasi di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang, pada Rabu (20/3/2025). Rapat ini membahas ketersediaan dan stabilitas harga bahan pokok, serta strategi optimalisasi panen raya guna menjaga ketahanan pangan nasional.
Hadir dalam rapat ini Menteri Koordinator Bidang Pangan, Menteri Perdagangan, Wakil Menteri Pertanian, Kepala Badan Pangan Nasional, serta seluruh bupati dan wali kota di Jawa Tengah.
Bupati Demak Soroti Normalisasi Sungai Sipon Gajah Karanganyar
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Demak, Dr. Hj. Eisti’anah, menegaskan dukungan penuh terhadap program ketahanan pangan nasional yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto. Ia juga menyoroti pentingnya normalisasi Sungai Sipon Gajah Karanganyar untuk mengatasi banjir yang berdampak pada sektor pertanian di Kabupaten Demak.
“Banjir yang terjadi sebelumnya telah menyebabkan kerusakan lahan pertanian. Presiden Joko Widodo telah meninjau lokasi, namun hingga kini belum ada tindakan nyata. Kami berharap ada tindak lanjut segera untuk normalisasi sungai ini guna menjaga ketahanan pangan di Demak,” ujar Bupati Eisti’anah.
Surplus Beras 3,5 Juta Ton, Pemerintah Dorong Penyerapan Optimal
Dalam rapat tersebut, Menteri Koordinator Bidang Pangan, Dr. (H.C.) H. Zulkifli Hasan, menyampaikan bahwa Jawa Tengah mengalami surplus beras hingga 3,5 juta ton. Ia menekankan kepala daerah harus melakukan rapat mingguan guna memastikan kelancaran penyerapan hasil pertanian.
Pemerintah pun menargetkan Bulog untuk menyerap 700 ribu ton beras hingga akhir Maret 2025. Langkah ini bertujuan menstabilkan harga gabah di tingkat petani serta menghindari permainan harga oleh tengkulak.
Wagub Jateng Soroti Infrastruktur Irigasi
Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, menyoroti tantangan infrastruktur irigasi yang hanya dalam kondisi baik sebesar 33% dari luas baku sawah yang ada. Oleh karena itu, pembangunan infrastruktur pertanian menjadi fokus utama guna meningkatkan ketahanan pangan di Jawa Tengah.
“Jawa Tengah diprediksi mengalami surplus pangan pada 2025, namun infrastruktur irigasi yang masih minim bisa menjadi hambatan. Maka, perbaikan irigasi harus segera dilakukan,” tegasnya.
Tantangan di Berbagai Kabupaten
Dalam diskusi rapat, sejumlah daerah melaporkan tantangan yang dihadapi dalam sektor pertanian:
Kabupaten Pati menghadapi kendala dalam penyerapan beras oleh Bulog.
Kabupaten Klaten mengusulkan pembangunan embung guna mengatasi permasalahan air.
Kabupaten Jepara meminta pengembangan smart irigasi untuk meningkatkan produktivitas pertanian.
Kabupaten Grobogan melaporkan dampak banjir yang menyebabkan banyak tanaman rusak.
Kabupaten Pemalang membutuhkan dukungan dalam mengatasi rob yang mengancam hasil pertanian.
Wamen Pertanian: Tengkulak Dilarang Beli Gabah di Bawah Rp 6.500/Kg
Sementara itu, Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, menegaskan bahwa target luas tanam tambahan di Jawa Tengah mencapai 235.862 hektar. Ia juga memperingatkan bahwa tengkulak dilarang membeli gabah di bawah Rp 6.500/kg, demi menjaga kesejahteraan petani.
“Petani harus mendapat harga yang layak. Tengkulak yang membeli di bawah harga tersebut akan ditindak sesuai aturan,” tegasnya.
Sinergi Pemerintah Pusat dan Daerah untuk Ketahanan Pangan
Rapat koordinasi ini menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dalam memastikan ketahanan pangan serta stabilitas harga bahan pokok menjelang Idulfitri dan menghadapi panen raya.
Dengan berbagai kebijakan dan infrastruktur yang dirancang, diharapkan ketahanan pangan nasional semakin kuat, kesejahteraan petani meningkat, dan harga bahan pokok tetap stabil di tengah tantangan perubahan iklim dan infrastruktur pertanian yang masih perlu pembenahan.






