Menu

Mode Gelap
Polres Blora Gelar Doa Bersama dan Santunan Anak Yatim Jelang Operasi Ketupat Candi 2026 Pemuda di Blora Tusuk Lawannya Usai Cekcok Dipicu Saling Ejek Polres Blora Gelar Gerakan Pangan Murah, Warga Serbu Beras dan Minyak Goreng Murah di Bulan Ramadan Rumah Kayu Milik Petani di Jiken Blora Ludes Terbakar, Kerugian Capai Rp53 Juta BUMD PT BPE Gelar Pasar Murah di Kecamatan Jepon, Warga Antusias Sambut Harga Lebih Murah Kuasa Hukum Cimut Minta Polisi Usut Tuntas Kasus Pengeroyokan di Ngawen Blora

Berita

Program RTLH Blora: Upaya Pemerintah Mengatasi Rumah Tidak Layak Huni

badge-check


					Program RTLH Blora: Upaya Pemerintah Mengatasi Rumah Tidak Layak Huni Perbesar

Klikjateng, Blora – Pemerintah Kabupaten Blora terus berupaya mengatasi persoalan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Program ini menjadi bagian dari visi dan misi Bupati Blora, Arief Rohman, dalam meningkatkan kesejahteraan warga. Kepala Bidang (Kabid) Perumahan dan Permukiman Dinas Perumahan, Permukiman, dan Perhubungan (Dinrumkimhub) Blora, Denny Adhiharta Setiawan, menjelaskan secara rinci tentang pelaksanaan program RTLH di Blora.

Target dan Anggaran Program RTLH

Menurut Denny, program RTLH di Blora selaras dengan program nasional yang menyasar masyarakat kurang mampu. Setiap tahunnya, pemerintah daerah berupaya mengalokasikan anggaran untuk program ini karena jumlah rumah tidak layak huni di Blora masih tergolong tinggi.

“Berdasarkan data tahun 2015, jumlah RTLH di Blora masih sekitar 85 ribuan unit. Angka ini tentu tidak bisa hanya bergantung pada APBD Kabupaten saja, sehingga kita berkolaborasi dengan APBD Provinsi, pemerintah pusat, CSR, dan Baznas. Yang berjalan lancar setiap tahun adalah bantuan dari Provinsi,” ujar Denny. Senin (17/03/25).

Target perbaikan rumah berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) sebelumnya adalah 1.300 unit per tahun pada periode 2021-2024. Namun, untuk RPJMD 2025-2029, target terbaru masih dalam proses penyusunan.

Dari segi anggaran, program RTLH di Kabupaten Blora mendapatkan alokasi dana sebesar Rp17.500.000 per rumah dari APBD Kabupaten, sedangkan bantuan dari Provinsi dan pemerintah pusat mencapai Rp20.000.000 per unit.

“Sebenarnya, bantuan tersebut masih jauh dari cukup. Oleh karena itu, kami berharap masyarakat juga ikut swadaya agar hasil renovasi lebih optimal. Kalau hanya mengandalkan bantuan, hasilnya tidak akan sesuai harapan,” jelasnya.

Kriteria dan Proses Seleksi RTLH

Dalam menentukan rumah yang berhak mendapatkan bantuan, Dinrumkimhub Blora menggunakan prinsip “Aladin” (Atap, Lantai, Dinding).

“Kami melihat dari aspek keamanan rumah. Jika atapnya sudah hampir roboh atau dindingnya miring, itu yang perlu ditangani dulu. Kalau rumahnya masih berdinding bambu, kami bantu ganti menjadi kayu agar lebih awet dan kokoh,” jelas Denny.

Selain itu, sasaran utama program ini adalah masyarakat berpenghasilan rendah yang masih bisa melakukan swadaya. Namun, dalam beberapa kasus, pemerintah tetap membantu warga yang benar-benar tidak mampu, seperti janda tua atau lansia tanpa penghasilan.

“Misalnya, dalam satu RT ada dua penerima bantuan, satu adalah tukang becak yang masih memiliki penghasilan, dan satu lagi janda tua yang sakit. Meskipun program ini lebih diarahkan ke masyarakat berpenghasilan rendah, kami tidak bisa mengabaikan mereka yang benar-benar membutuhkan,” ujarnya.

Pengawasan dan Kendala Pelaksanaan

Agar program berjalan tepat sasaran, Dinrumkimhub bekerja sama dengan pemerintah desa dan masyarakat untuk mengawasi proses renovasi.

“Kendala utama kami adalah keterbatasan tenaga pengawas karena luasnya wilayah Blora dan lokasi rumah yang tersebar. Oleh karena itu, kami mengandalkan operator desa dan kepala desa untuk membantu mengawasi,” kata Denny.

Selain itu, pelaksanaan program sering kali mengalami keterlambatan karena faktor budaya masyarakat yang menunggu hari baik untuk memulai renovasi rumah.

“Di Blora, memperbaiki rumah dianggap sebagai kegiatan besar, sehingga tidak bisa sembarangan. Mereka harus menunggu hari baik atau momen tertentu sebelum memulai perbaikan,” tambahnya.

Dampak Program dan Evaluasi Ke Depan

Sejauh ini, program RTLH memberikan dampak positif bagi masyarakat penerima manfaat. Banyak rumah yang awalnya nyaris roboh atau tidak memiliki ventilasi kini menjadi lebih layak dan sehat untuk ditinggali.

“Sebelumnya, banyak rumah di Blora yang masih berlantaikan tanah dan tidak memiliki jendela. Sekarang, dengan adanya program ini, rumah-rumah tersebut sudah lebih layak huni dan sehat,” ungkap Denny.

Ke depan, pemerintah akan terus menyempurnakan program ini agar semakin efektif. Salah satu tantangan terbesar adalah banyaknya jumlah RTLH yang masih harus diperbaiki, sementara anggaran yang tersedia terbatas.

“Kami akan terus mengupayakan peningkatan jumlah penerima manfaat dan mencari sumber pendanaan tambahan agar lebih banyak rumah yang bisa diperbaiki,” pungkasnya.

Dengan berbagai upaya ini, diharapkan program RTLH dapat terus berlanjut dan semakin banyak masyarakat Blora yang bisa merasakan manfaatnya.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending di Berita